Jakarta – Organisasi masyarakat sipil dan berbasis komunitas di Indonesia kini dapat mengakses hibah kecil hingga USD 75.000 (sekitar IDR 1,2 miliar) melalui Program Hibah Kecil Global Environment Facility (GEF SGP). Penerima hibah juga dapat menerima dukungan teknis Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) guna memperkuat aksi komunitas demi mewujudkan lingkungan dan mata pencaharian yang lebih baik.
FAO bergabung dengan Fase Operasional Kedelapan (GEF SGP-OP8) Program Hibah Kecil GEF dan mengimplementasikan program ini di 13 negara, termasuk Indonesia. GEF SGP adalah inisiatif unggulan GEF yang telah lama ada dan bertujuan untuk meningkatkan aksi akar rumput yang inovatif dengan memberdayakan masyarakat sipil dan organisasi berbasis komunitas memastikan keterlibatan Masyarakat Adat, orang muda, perempuan dan anak perempuan, serta penyandang disabilitas.
Di Indonesia, FAO bermitra dengan organisasi nirlaba Yayasan Bina Usaha Lingkungan (YBUL) sebagai lembaga pelaksana yang telah mengelola GEF SGP di negara ini sejak tahun 1997. Kedua organisasi tersebut menandatangani Perjanjian Kemitraan Operasional pada hari Rabu, 13 Mei 2026, di kantor FAO Indonesia di Jakarta.

“Dalam mengatasi tantangan global yang kita hadapi saat ini, kita membutuhkan pendekatan dari bawah ke atas yang memungkinkan masyarakat setempat untuk mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan dan meningkatkan mata pencaharian mereka,” jelas Rajendra Aryal, Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste.
”FAO berkomitmen untuk memberikan dukungan teknis kepada penerima hibah GEF SGP, memperkuat kapasitas masyarakat akar rumput untuk menghadirkan solusi mereka sendiri. FAO dan YBUL telah bersiap untuk memperluas kemitraan ini untuk menjangkau lebih banyak komunitas di seluruh kepulauan Indonesia yang luas,” tambahnya.
Isu prioritas
GEF SGP akan memprioritaskan pendanaan untuk inisiatif yang selaras dengan rencana pembangunan Indonesia dan komitmen global, serta lima prioritas tematik GEF SGP-OP8. Isu prioritas ini meliputi: (1) konservasi berbasis masyarakat untuk ekosistem dan spesies yang terancam punah; (2) pertanian dan perikanan berkelanjutan, dan ketahanan pangan; (3) manfaat tidak langsung terkait akses energi rendah karbon; (4) koalisi lokal hingga global untuk pengelolaan bahan kimia dan limbah; dan (5) solusi perkotaan berkelanjutan.
Para pemangku kepentingan GEF SGP di tingkat nasional dan lokal akan memilih wilayah prioritas tertentu di Indonesia, dengan mempertimbangkan nilai keanekaragaman hayati serta tantangan lingkungan dan mata pencaharian di wilayah tersebut, serta pengalaman wilayah tersebut dalam mendapatkan pembiayaan GEF SGP sebelumnya.
Lebih dari pembiayaan
Selain hibah langsung, GEF SGP akan membekali penerima hibah dengan akses ke pengembangan pengetahuan dan keterampilan, serta bantuan teknis dan hibah yang difasilitasi oleh FAO. Dengan mengadopsi pendekatan berorientasi bisnis, program ini juga akan menghubungkan penerima hibah dengan pasar potensial dan sektor swasta untuk memperbesar skala dan dampak inisiatif mereka.
“Tujuan kami adalah untuk melokalisasi komitmen internasional Indonesia, dari FOLU Net Sink 2030 hingga Kerangka Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal, dengan memberdayakan mereka yang merupakan penjaga sejati keanekaragaman hayati kita: masyarakat lokal dan Masyarakat Adat,” jelas Yani Witjaksono, Direktur Eksekutif Yayasan Bina Usaha Lingkungan.
Menuju pembangunan berkelanjutan yang inklusif
Organisasi masyarakat dapat mengajukan proposal mereka dimulai pada bulan Juni tahun ini. Dengan pendanaan dan dukungan teknis, proyek yang digerakkan oleh masyarakat lokal diharapkan dapat memberikan manfaat lingkungan global yang terukur sekaligus mengatasi berbagai isu lintas sektoral seperti peningkatan mata pencaharian, pengurangan kemiskinan, inklusi sosial, kesetaraan gender, dan pemberdayaan komunitas rentan dan orang muda.
Selama periode 2026-2029, GEF SGP OP8 bertujuan untuk mendukung lebih dari 14.000 penerima manfaat termasuk lebih dari 7.200 perempuan, 2.300 pemuda, dan 2.300 penyandang disabilitas. Demi memastikan inklusivitas, tim GEF SGP dan mitra akan memastikan bahwa setidaknya 30% dari hibah akan diberikan kepada perempuan atau kelompok yang dipimpin perempuan, setidaknya 10% untuk kaum muda atau kelompok yang dipimpin kaum muda, dan setidaknya 5% untuk Masyarakat Adat.
Proyek-proyek yang didanai oleh program ini diharapkan dapat membantu memulihkan lebih dari 6.400 hektar lahan, meningkatkan praktik pengelolaan di lebih dari 110.000 hektar lanskap dan 8.000 hektar bentang laut, serta mengurangi perkiraan emisi gas rumah kaca sebesar 640.000 CO2e. Semua hasil tersebut dapat dilacak melalui portal online GEF SGP milik FAO.
Untuk memastikan proses seleksi dan implementasi penerima hibah yang adil, inklusif, dan transparan, FAO dan YBUL telah menunjuk 11 anggota Komite Pengarah Nasional GEF-SGP-OP8. Anggota komite mewakili masyarakat sipil, pemerintah Indonesia, dan sektor swasta untuk memastikan kepemilikan nasional yang kuat.
“Sangat tepat bagi kita untuk memulai program ini sekarang karena kita terus menghadapi tiga krisis planet. Kita memiliki banyak tantangan di tingkat lokal, regional, dan global. Mengikuti slogan GEF SGP; aksi lokal, dampak global, kami berharap dapat memberikan kontribusi signifikan untuk mengatasi tantangan-tantangan ini,” ujar Laksmi Dhewanthi, anggota Komite Pengarah Nasional yang mewakili Kementerian Lingkungan Hidup.
Tentang Program Hibah Kecil GEF (GEF SGP-OP8)
Program Hibah Kecil GEF adalah inisiatif unggulan yang dirancang untuk mengatasi tantangan dalam menghubungkan prioritas global GEF dengan implementasi di tingkat akar rumput, menghadirkan Manfaat Lingkungan Global (GEB) sekaligus meningkatkan mata pencaharian, memastikan kepemilikan lokal, dan mendorong inovasi. FAO, bersama dengan Conservation International (CI), terpilih sebagai Badan Pelaksana SGP baru untuk OP8 Tranche II. Sejak didirikan pada tahun 1992, GEF SGP telah mendukung hampir 30.000 penerima hibah di 136 negara, mengelola lebih dari USD 1,5 miliar dana GEF untuk komunitas lokal dan organisasi masyarakat sipil, serta mengamankan lebih dari USD 990 juta dalam pembiayaan bersama.
Tentang FAO
FAO adalah badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa yang memimpin upaya internasional untuk mengatasi kelaparan berdasarkan prinsip Four Betters : produksi yang lebih baik, nutrisi yang lebih baik, lingkungan yang lebih baik, dan kehidupan yang lebih baik yang tidak meninggalkan siapa pun. Bersama dengan para mitranya, FAO bekerja di lebih dari 130 negara untuk mencapai ketahanan pangan bagi semua. Indonesia telah menjadi anggota FAO sejak tahun 1948, dan lebih dari 650 proyek dan program telah dilaksanakan di seluruh negeri bekerja sama dengan pemerintah Indonesia.













