29 Sanca Kembang Diselamatkan

banner 468x60

Jakarta -Di tengah ritme kehidupan warga yang berjalan seperti biasa, kehadiran seekor ular di dalam rumah sering kali menjadi kepanikan. Namun di Kabupaten Tuban, yang terjadi bukan hanya satu atau dua kemunculan. Sebanyak 29 ekor Sanca Kembang (Malayopython reticulatus) ditemukan dan dievakuasi dari berbagai sudut permukiman warga, sebuah angka yang mengisyaratkan lebih dari sekadar kebetulan.

Pada Rabu (13/5), tim gabungan dari Resort Konservasi Wilayah (RKW) 03 Bojonegoro, Seksi KSDA Wilayah Bojonegoro, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dan Unit Penyelamatan Satwa (UPS) BBKSDA Jawa Timur menerima penyerahan satwa liar tersebut dari Pemadam Kebakaran Kabupaten Tuban. Sebelumnya, ular-ular ini diamankan oleh petugas Damkar dari dalam rumah warga dan lingkungan sekitarnya, mulai dari dapur, kamar mandi, hingga pekarangan yang berbatasan langsung dengan vegetasi.

banner 336x280

Bagi sebagian orang, sanca kembang mungkin hanya dipandang sebagai ancaman. Tubuhnya yang besar, lilitan yang kuat, dan kemampuannya beradaptasi di berbagai habitat membuatnya sering kali ditakuti. Namun di balik itu, spesies ini memegang peran penting sebagai pengendali populasi satwa kecil seperti tikus, yang justru dapat menjadi hama bagi manusia.

Seluruh individu sanca yang berhasil diamankan kemudian diangkut ke fasilitas UPS di Sidoarjountuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Di sana, satwa-satwa tersebut menjalani proses observasi kondisi kesehatan dan perilaku, sebagai dasar untuk menentukan langkah berikutnya, apakah memungkinkan untuk dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya atau memerlukan penanganan khusus.

Fenomena kemunculan puluhan sanca di kawasan permukiman bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia merupakan potret dari lanskap yang terus berubah. Alih fungsi lahan, fragmentasi habitat, serta meningkatnya tekanan aktivitas manusia di sekitar ruang alami mendorong satwa liar keluar dari habitatnya. Dalam situasi seperti ini, batas antara ruang hidup manusia dan satwa menjadi semakin kabur.

Melalui kegiatan Matawali (Penyelamatan Satwa Liar), Balai Besar KSDA Jawa Timur menunjukkan respons cepat dalam menangani interaksi antara manusia dan satwa liar. Namun lebih jauh, upaya ini juga menjadi refleksi bahwa konflik semacam ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan evakuasi. Diperlukan pendekatan yang lebih menyeluruh, mulai dari edukasi masyarakat, pengelolaan habitat, hingga perencanaan tata ruang yang mempertimbangkan keberadaan satwa liar.

Di Tuban, 29 ekor Sanca Kembang telah diselamatkan dari ruang hidup yang tidak semestinya. Tetapi kisah ini belum benar-benar usai. Ia menyisakan pertanyaan penting bagi kita semua: ketika satwa liar semakin sering ditemukan di dalam rumah manusia, siapa sebenarnya yang sedang memasuki wilayah siapa?

Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timu

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *