Sekretaris Jenderal PBB akan memberikan penghormatan kepada para penjaga perdamaian yang gugur dan menyoroti kebutuhan mendesak untuk berinvestasi dalam perdamaian
New York – Hari Internasional Penjaga Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa akan diperingati di Markas Besar PBB pada (5/6/2026) untuk memberikan penghormatan kepada seluruh perempuan dan laki-laki yang bertugas dalam misi penjaga perdamaian PBB, serta mengenang mereka yang telah kehilangan nyawa demi perdamaian.
Dalam Siaran Pers Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Jumat, 29 Mei 2026, Sekretaris Jenderal António Guterres akan meletakkan karangan bunga untuk menghormati hampir 4.500 penjaga perdamaian yang telah kehilangan nyawa sejak 1948. Ia juga akan memimpin upacara penganugerahan Medali Dag Hammarskjöld secara anumerta kepada 68 personel militer, polisi, dan sipil penjaga perdamaian yang gugur dalam menjalankan tugas, termasuk 59 orang yang wafat tahun lalu.
Di antara para penjaga perdamaian yang akan dianugerahi Medali Dag Hammarskjöld secara anumerta terdapat dua personel dari Indonesia : Kopral Dua Eko Prambudi Santoso, yang bertugas bersama Misi Stabilisasi Organisasi PBB di Republik Demokratik Kongo (MONUSCO) dan Brigadir Polisi Kepala Sri Widodo, yang bertugas bersama Misi Stabilisasi Terpadu Multidimensi PBB di Republik Afrika Tengah (MINUSCA). Keduanya wafat pada tahun 2025.
Tahun ini, Indonesia kehilangan empat penjaga perdamaian yang bertugas bersama Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL), di tengah konflik Israel-Hizbullah.
Mereka yang wafat tahun ini akan dianugerahi Medali Dag Hammarskjöld secara anumerta pada upacara tahun depan.
Saat ini, lebih dari 50.000 penjaga perdamaian sipil, militer, dan polisi bertugas di bawah bendera PBB di sejumlah lingkungan paling kompleks di dunia, di mana konflik semakin terfragmentasi, berkepanjangan, dan dipengaruhi oleh berbagai ancaman baru, termasuk penyalahgunaan perangkat digital dan penyebaran informasi berbahaya. Sebanyak 118 negara saat ini menyumbangkan personel berseragam untuk 11 misi penjaga perdamaian.
Indonesia merupakan kontributor personel terbesar ke-6 untuk misi penjaga perdamaian PBB. Saat ini, Indonesia mengirimkan hampir 2.000 personel militer dan polisi termasuk 156 perempuan ke operasi perdamaian PBB di Abyei, Republik Afrika Tengah, Siprus, Republik Demokratik Kongo, Lebanon, Sudan Selatan, dan Sahara Barat.
Majelis Umum menetapkan Hari Internasional Penjaga Perdamaian PBB pada 2002 dan memilih tanggal 29 Mei karena pada hari itu, tahun 1948, Dewan Keamanan membentuk operasi penjaga perdamaian PBB pertama, yaitu United Nations Truce Supervision Organization di Timur Tengah.
Tema tahun ini adalah “Berinvestasi dalam Perdamaian”. Pada saat operasi penjaga perdamaian PBB menghadapi berkurangnya sumber daya, tema ini menegaskan bahwa penjaga perdamaian tetap menjadi salah satu perangkat paling efektif yang dimiliki komunitas internasional untuk merespons konflik mendukung solusi politik, mencegah eskalasi, melindungi warga sipil, memantau gencatan senjata, memungkinkan bantuan kemanusiaan, membersihkan ranjau darat, dan banyak lagi.
Dalam pesannya, Sekretaris Jenderal António Guterres mengatakan: “Pada Hari Internasional ini, kita menghormati para penjaga perdamaian, baik yang telah mendahului kita maupun yang masih bertugas saat ini, serta menegaskan kembali tanggung jawab bersama kita untuk menghormati dan memperkuat kerja mereka. Kita memberikan penghormatan kepada hampir 4.500 penjaga perdamaian yang telah kehilangan nyawa sejak 1948, termasuk 59 orang tahun lalu. Tidak seorang pun seharusnya meninggal saat mengabdi demi perdamaian. Serangan terhadap penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional, dan Negara-Negara Anggota harus memenuhi kewajiban mereka untuk memastikan keselamatan dan keamanan personel PBB setiap saat.”
Ia juga menyatakan bahwa “di era meningkatnya ketegangan, penjaga perdamaian merupakan cara yang terbukti dan hemat biaya untuk memulihkan stabilitas dan harapan. Namun, hal ini membutuhkan dukungan politik yang konsisten serta dukungan finansial yang dapat diandalkan.”
Dalam upacara khusus tersebut, Sekretaris Jenderal juga akan menganugerahkan “Captain Mbaye Diagne Medal for Exceptional Courage” kepada Kopral Matias Reyes dari Uruguay atas tindakannya di Goma, Republik Demokratik Kongo bagian timur, pada puncak krisis awal 2025; serta kepada mendiang Sergii Prykodko dari Ukraina, yang bertugas sebagai kontraktor swasta dalam Misi PBB di Sudan Selatan (UNMISS) dan gugur dalam misi mengevakuasi tentara yang terkepung pada Maret tahun lalu.
Sekretaris Jenderal juga akan memberikan penghargaan kepada Military Gender Advocate of the Year 2025, Mayor Abhilasha Barak dari India, yang bertugas di Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL), serta kepada UN Woman Police Officer of the Year, Stephanie Königs dari Jerman, yang bertugas di UNMISS.
“Pada saat konflik meningkat dan sumber daya semakin terbatas, para penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa terus melindungi warga sipil, mencegah kekerasan agar tidak meningkat, dan menjaga harapan tetap hidup di sejumlah lingkungan paling sulit di dunia. Berinvestasi dalam penjaga perdamaian berarti berinvestasi dalam stabilitas, pencegahan, dan kemungkinan terciptanya perdamaian itu sendiri,” kata Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal untuk Operasi Perdamaian.













