Beranda Nasional BNPB : 1.485 jiwa terdampak Kebakaran TPA Troketon

BNPB : 1.485 jiwa terdampak Kebakaran TPA Troketon

Petugas saat memadamkan area kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Troketon di Desa Troketon, Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah pada Sabtu (1/8/2026) (Foto : Dok. BNPB)

Jakarta (The Indonesian News) – Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan Berdasarkan data yang dihimpun, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mendominasi kejadian bencana di berbagai wilayah selama musim kemarau. Selain itu, terdapat satu laporan kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Kebakaran area kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Troketon di Desa Troketon, Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah pada Sabtu (1/8/2026) (Foto : Dok. BNPB)

“Area Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Troketon seluas 1.000 m² di Desa Troketon, Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah pada Sabtu (1/8) pukul 13.00 WIB. Api membakar timbunan sampah berketinggian sekitar 10 meter yang berstruktur terasering, sehingga menyebarkan asap tebal ke permukiman warga. Peristiwa ini berdampak pada sekitar 473 KK atau 1.485 jiwa yang tinggal Desa Kaligawe dan Desa Kalangan,” Kata Abdul Muhari dalam keterangan tertulis, Senin, 3 agustus 2026.

Dia menjelaskan, BPBD Kabupaten Klaten bersama unsur gabungan dari Damkar Klaten, Damkar Sukoharjo, TNI, Polri, Dinas Lingkungan Hidup, PMI, serta berbagai organisasi relawan langsung melakukan kaji cepat dan pemadaman intensif. Pada Minggu (2/8), api berhasil dipadamkan sepenuhnya. Untuk penanganan dampak asap, masker bagi warga terdampak serta dukungan logistik bagi personel pemadam menjadi kebutuhan mendesak yang dibutuhkan di lapangan.

Petugas saat memberikan Masker kepada warga terdampak Kebakaran TPA di Desa Troketon Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tenga. (Foto : Dok. BNPB)

“Bagi warga yang berada di sekitar area terdampak asap kebakaran, disarankan untuk selalu menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah guna menghindari gangguan pernapasan (ISPA). Jika menemukan potensi atau indikasi timbulnya titik api maupun krisis air bersih di lingkungannya, masyarakat diharapkan segera menghubungi BPBD atau aparat desa setempat,” Tutup Abdul Muhari.