Beranda Daerah MTI Dorong Integrasi Transportasi Nasional dan Pengembangan Kertajati dalam Sistem Multi-Airport

MTI Dorong Integrasi Transportasi Nasional dan Pengembangan Kertajati dalam Sistem Multi-Airport

Foto : Dok. Masyarakat Transportasi Indonesia

Jakarta (The Indonesian News) – Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Dr. Ir. Haris Muhammadun, ATD., M.M., IPU, menegaskan pentingnya membangun sistem transportasi nasional yang terintegrasi untuk meningkatkan efisiensi mobilitas masyarakat sekaligus memperkuat konektivitas antarmoda di Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam rangkaian Seminar Nasional dan Pengukuhan Pengurus Pusat serta Majelis Profesi dan Etik MTI Masa Bakti 2025–2028, Selasa (4/8).

Menurut Haris, pengoperasian kembali Bandara Husein Sastranegara harus berjalan seiring dengan upaya pengembangan Bandara Internasional Kertajati melalui konsep multi-airport system.

“Kertajati tetap harus dikembangkan. Solusinya bukan memilih salah satu bandara, tetapi membangun sistem multi-airport sehingga keduanya dapat saling melengkapi. Di saat yang sama, perlu inovasi agar kawasan Rebana benar-benar tumbuh sebagai pusat ekonomi baru,” ujarnya.

Ia menilai pengembangan Kertajati tidak cukup hanya mengandalkan operasional penerbangan, tetapi juga membutuhkan dukungan konektivitas yang baik dengan berbagai moda transportasi serta pengembangan kawasan ekonomi di sekitarnya.

Selain itu, Haris menyoroti masih lemahnya integrasi antarmoda transportasi di Indonesia. Menurutnya, simpul-simpul transportasi seperti bandara, stasiun, terminal, pelabuhan, jalan tol, hingga transportasi perkotaan masih belum terhubung secara optimal.

“Kalau kita melihat bandara-bandara besar dunia seperti Hong Kong atau Singapura, penumpang turun dari pesawat langsung terhubung dengan kereta api maupun moda transportasi lainnya. Di Indonesia, konektivitas seperti itu masih harus terus diperbaiki,” katanya.

Ia menegaskan bahwa pembangunan transportasi tidak boleh lagi dilakukan secara sektoral, melainkan harus mengedepankan integrasi antarmoda agar perjalanan masyarakat menjadi lebih mudah, cepat, dan efisien.

“Tidak boleh lagi ada ego sektoral. Yang harus kita bangun adalah sistem transportasi yang benar-benar terintegrasi dari awal hingga tujuan akhir perjalanan masyarakat,” tegas Haris.

Dalam kesempatan itu, Haris juga menyinggung pentingnya transportasi sebagai instrumen pengentasan kemiskinan. Menurutnya, akses transportasi yang baik akan membuka peluang ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“MTI selalu berpandangan bahwa transportasi yang baik dapat membantu mengentaskan kemiskinan karena membuka akses ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan berbagai layanan publik lainnya,” ungkapnya.

Di sektor logistik, Haris mendorong percepatan integrasi jaringan kereta api antara Pulau Jawa dan Sumatera. Ia berharap pembangunan konektivitas tersebut dapat menekan biaya distribusi barang nasional.

“Ke depan, kami berharap distribusi logistik Jawa–Sumatera dapat semakin efisien melalui jaringan kereta api yang terintegrasi. Jika biaya logistik bisa ditekan, daya saing nasional juga akan meningkat,” jelasnya.

MTI juga tengah menggagas penguatan sistem transportasi hingga ke tingkat desa melalui kerja sama dengan Kementerian Desa. Konsep tersebut mengedepankan pengelompokan beberapa desa dalam satu rute angkutan yang terhubung dengan pasar, kantor kecamatan, fasilitas kesehatan, hingga pusat pelayanan masyarakat.

Menurut Haris, model tersebut dapat dijalankan melalui koperasi sehingga selain meningkatkan pelayanan transportasi masyarakat desa, juga mampu menciptakan efisiensi operasional dan memperkuat ekonomi lokal.

“Kami ingin transportasi desa menjadi lebih teratur, efisien, dan mampu melayani kebutuhan masyarakat, termasuk akses ke rumah sakit, pasar, sekolah, maupun pusat pemerintahan. Dengan begitu, transportasi benar-benar menjadi penggerak pembangunan dari desa,” pungkasnya.