Semarang (The Indonesian News) – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mengembangkan Trans Jateng sebagai transportasi publik yang terjangkau, aman, nyaman, dan ramah lingkungan. Pengembangan ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi sekaligus menekan emisi dan meningkatkan keselamatan lalu lintas, Kamis (20/08/2026).
Akademisi Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat MTI, Djoko Setijowarno, mengatakan penguatan jaringan dan integrasi Trans Jateng menjadi kunci untuk mendorong masyarakat beralih ke transportasi umum.
Saat ini Trans Jateng memiliki tujuh koridor dengan 115 bus dan melayani sekitar 27.668 penumpang per hari. Tarif ditetapkan Rp5.000 untuk umum dan Rp1.000 bagi pelajar, veteran, buruh, lansia, serta penyandang disabilitas.
Berdasarkan pemodelan IESR 2026, jaringan Trans Jateng ditargetkan berkembang menjadi 24 rute dan mampu melayani hingga 209 ribu penumpang per hari pada 2045. Sejumlah rute baru akan dikembangkan secara bertahap mulai 2027, mencakup berbagai kawasan aglomerasi di Jawa Tengah.
Namun, pengembangan tersebut masih menghadapi tantangan, terutama pendanaan, integrasi dengan angkutan pengumpan, kualitas halte, ketepatan waktu, serta layanan first mile dan last mile.
“Trans Jateng harus memberikan pengalaman perjalanan yang lebih praktis, aman, nyaman, dan terjangkau dibandingkan kendaraan pribadi,” kata Djoko.
Menurutnya, integrasi jaringan dan kepastian pendanaan menjadi faktor penting agar target peningkatan penggunaan transportasi publik dapat tercapai.









