Beranda Daerah BNPB Perkuat Penanganan Karhutla di Teluk Bintuni

BNPB Perkuat Penanganan Karhutla di Teluk Bintuni

Pengerahan helikopter water bombing pemadaman karhutla di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, Jumat (28/8/2026). Video: The Indonesian News/HO-BNPB

Papua Barat (The Indonesian News) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkuat upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, Jumat (28/8). Dukungan dilakukan melalui pengerahan satu unit helikopter water bombing AS350B3e PK-DBM yang secara kumulatif telah melaksanakan 69 kali penyiraman air atau sekitar 69 ribu liter untuk mendukung pemadaman di sekitar kawasan Tangguh LNG.

Plt. Kapusdatin BNPB, Berton Suar Pelita Panjaitan mengatakan, Dari hasil assesment sementara, peristiwa Karhutla di Kabupaten Teluk Bintuni terpantau sejak 22 Agustus 2026. Lokasi kebakaran berada di kawasan hutan yang cukup lebat, pepohonan tinggi, serta tutupan vegetasi yang masih rapat.

“Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan pemadaman dari udara, sebab air yang dijatuhkan tidak selalu dapat langsung mencapai permukaan tanah maupun material yang terbakar di bawah tutupan vegetasi. Namun setidaknya air yang disiram menggunakan metode ini dapat membasahi area dengan harapan dapat memutus jalur rambatan api,” Kata Berton Suar Pelita Panjaitan dalam keterangannya, Sabtu, 29 Agustus 2026.

Di samping itu, Berton Suar Pelita Panjaitan menjelaskan, pemadaman melalui udara juga dilakukan secara bertahap dan disertai pemantauan berkala untuk mengidentifikasi titik panas maupun bara yang masih tersisa. Pemantauan juga dilakukan menggunakan pesawat nirawak (drone) khusus pemantau panas atau thermal untuk membantu menentukan lokasi yang menjadi prioritas penanganan.

“Berdasarkan pemantauan drone thermal milik BP Berau Ltd. pada Jumat (28/8), ditemukan 14 titik panas yang tersebar di sekitar area Tangguh LNG dalam empat klaster. Sebanyak empat titik berada di klaster 2, empat titik di klaster 3, dan enam titik di klaster 4, sementara klaster 1 tidak terpantau titik panas pada pemantauan tersebut,” Ujarnya.

Adapun hasil pemetaan titik panas tersebut juga digunakan sebagai salah satu bahan evaluasi dalam menentukan prioritas pemadaman berikutnya. Hal itu terbukti efektif dan memudahkan tim satgas gabungan yang tak henti mengupayakan pemadaman.

“Pada Jumat (28/8), operasi water bombing dilakukan dalam dua sortie. Sortie pertama dilaksanakan di klaster 3 dengan 26 kali water bombing atau sekitar 26 ribu liter air pada area sekitar empat hektare. Sementara sortie kedua dilakukan di klaster 1 dengan 28 kali water bombing atau sekitar 28 ribu liter air pada area sekitar tiga hektare,” Terangnya.

Dari hasil pemadaman, kedua lokasi sudah tidak ditemukan kobaran api, namun masih terpantau kepulan asap tipis sisa kebakaran. Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya panas atau bara di bawah tutupan vegetasi sehingga pemantauan dan penanganan secara berulang tetap diperlukan untuk mencegah api kembali berkembang.

Secara kumulatif, dukungan operasi udara BNPB di Teluk Bintuni telah mencapai tiga sortie dengan total 69 kali water bombing atau sekitar 69 ribu liter air.

Tantangan Kondisi Lapangan dan Strategi

Penanganan karhutla di Papua Barat dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan di masing-masing wilayah. Selain Teluk Bintuni, karhutla juga terpantau di sejumlah wilayah lain seperti di Kabupaten Fakfak, Manokwari Selatan, dan Pegunungan Arfak.

Berdasarkan laporan BPBD Provinsi Papua Barat, Kabupaten Teluk Bintuni merupakan salah satu wilayah dengan luasan lahan terbakar yang cukup signifikan dan berada pada urutan kedua tertinggi di tingkat provinsi. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam dukungan penanganan, bersama dengan perkembangan titik panas, akses menuju lokasi, karakteristik medan, serta kebutuhan dukungan pemadaman dari udara.

Pengerahan sarana udara juga mempertimbangkan aspek teknis dan keselamatan operasi. Setiap penugasan helikopter disesuaikan dengan karakteristik wilayah dan kemampuan sarana untuk menjangkau lokasi sasaran secara efektif.

Saat ini, satu unit helikopter tipe Super Puma milik BP Berau Ltd. telah tiba di lokasi dan siap mendukung operasi water bombing. Satu unit helikopter tipe Kamov juga dijadwalkan tiba untuk menambah kapasitas pemadaman dari udara.

Dengan bertambahnya dukungan sarana pemadaman, pengerahan helikopter BNPB PK-DBM akan terus dievaluasi sesuai perkembangan kondisi lapangan dan kebutuhan penanganan karhutla di Papua Barat, termasuk kemungkinan dukungan untuk wilayah lain yang membutuhkan.

Evaluasi tersebut juga mempertimbangkan kondisi operasional helikopter, jarak menuju lokasi sasaran, akses dari pangkalan terdekat, sumber air dan karakteristik medan. Pertimbangan teknis menjadi penting terutama untuk wilayah dengan medan pegunungan dan lokasi kebakaran yang sulit dijangkau.

Hingga Jumat (28/8), kondisi karhutla di sekitar wilayah operasi Tangguh LNG secara umum masih terkendali. Namun, sejumlah titik panas dan asap tipis masih ditemukan sehingga pemantauan dan penanganan tetap dilanjutkan.

Hasil Pantauan Satelit

Secara keseluruhan, berdasarkan pantauan satelit NASA-Terra/Aqua, NASA-SNPP, dan NASA-NOAA20 hingga pukul 19.00 WIB pada 28 Agustus 2026, terdapat 36 titik panas di wilayah Provinsi Papua Barat. Jumlah tersebut terdiri atas satu titik dengan tingkat kepercayaan rendah, 31 titik dengan tingkat kepercayaan sedang, dan empat titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Sementara itu, luas indikatif lahan terbakar di Provinsi Papua Barat hingga 27 Agustus 2026 tercatat 2.496,39 hektare berdasarkan data SIPONGI Kementerian Kehutanan.

BNPB bersama BPBD dan seluruh unsur terkait terus melakukan pemantauan dan penanganan karhutla secara terpadu. Upaya tersebut dilakukan untuk mencegah api meluas, melindungi masyarakat dan lingkungan sekitar, serta memastikan dukungan sumber daya dikerahkan sesuai tingkat kebutuhan dan kondisi di lapangan.

“Penguatan koordinasi dan dukungan sarana pemadaman dari berbagai unsur diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penanganan karhutla sekaligus memperkuat kesiapsiagaan terhadap potensi kebakaran di wilayah Papua Barat lainnya,” Tutup Berton Suar Pelita Panjaitan.