Beranda Internasional Pameran Keliling PBB Angkat Sejarah Perbudakan Kolonial dan Perlawanan di Indonesia

Pameran Keliling PBB Angkat Sejarah Perbudakan Kolonial dan Perlawanan di Indonesia

Pameran keliling bertema "Slavery: Ten True Stories of Dutch Colonial Slavery" yang diadakan oleh Rijksmuseum Amsterdam, berkolaborasi bersama UNIC Indonesia di BINUS University @Kemanggisan - Anggrek Campus. (Credit: The Indonesian News/HO-Talitha Vanya Ekta/UNIC)

Jakarta (The Indonesian News) – Pusat Informasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIC) di Indonesia dan Universitas BINUS hari ini membuka rangkaian pameran poster bertajuk Slavery: Ten True Stories of Dutch Colonial Slavery (Perbudakan: Sepuluh Kisah Nyata Perbudakan Kolonial Belanda) yang dikembangkan oleh Rijksmuseum di Amsterdam.

Dipamerkan di Universitas BINUS pada tanggal 29–30 September, pameran ini mengajak mahasiswa dan masyarakat luas untuk menyelami sejarah perbudakan melalui kisah hidup individu; termasuk mereka yang diperbudak, mereka yang melakukan perlawanan, serta mereka yang mengambil keuntungan dari sistem tersebut.

Salah satu narasumber, Asep Kambali, menjelaskan salah satu materi pameran kepada pengunjung pameran keliling “Slavery: Ten True Stories of Dutch Colonial Slavery”. (Credit: The Indonesian News/HO-Talitha Vanya Ekta/UNIC)

Kisah-kisah dalam pameran ini menjangkau wilayah Belanda, Indonesia, Suriname, Karibia, dan berbagai tempat lain yang terhubung dengan penjajahan Belanda. Benda-benda bersejarah yang ditampilkan mengungkapkan bagaimana perbudakan membentuk kehidupan di seluruh jaringan ini. Beberapa kisah mengarah langsung ke Nusantara, termasuk Batavia, Kepulauan Banda, dan Jawa.

Di antaranya adalah Untung Surapati, yang diperbudak di Bali lalu melarikan diri dari Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) di Batavia. Untung memelopori perlawanan terhadap kekuasaan kolonial. Pada akhirnya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia, menjadikan kisahnya sebagai representasi sosok yang dikenal luas dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kisah lainnya mengangkat nasib enam individu yang diperdagangkan dari Teluk Benggala dan disebarkan melalui jaringan VOC, termasuk ke wilayah Batavia dan Kepulauan Banda.

Pengunjung menghadiri pameran keliling bertema “Slavery: Ten True Stories of Dutch Colonial Slave” oleh Rijksmuseum Amsterdam yang diselenggarakan di Binus University @Kemanggisan – Anggrek Campus. (Credit: The Indonesian News/Talitha Vanya Ekta/UNIC)

Direktur UNIC Indonesia, Miklos Gaspar, mengatakan “Kita perlu membicarakan sejarah perbudakan agar orang-orang yang mengalaminya tidak terlupakan, dan agar kita dapat memahami bagaimana ketidakadilan pada masa itu sempat dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Pelajaran tersebut sangat penting saat ini. Perbudakan tidak hanya terbatas di masa lalu: masih ada orang-orang yang menjadi korban atas praktik kerja paksa, dan berbagai bentuk perbudakan modern lainnya. Mengingat sejarah ini akan memperkuat komitmen kita untuk melindungi kebebasan semua orang.” Kata Miklos dalam siaran persnya melalui UNIC Indonesia, Selasa 29 September 2026.

Sebuah diskusi yang digelar bersamaan dengan pembukaan pameran ini, bertajuk “Perbudakan, Masa Lalu dan Masa Kini: Menghadapi Ketidakadilan Sejarah dan Bentuk Eksploitasi Kontemporer,” mempertemukan sejarawan Asep Kambali, Miklós Gáspár, dan Dr. Lili Yulyadi, B.IRK., B.HSc., M.HSc. Para pembicara mendiskusikan keterkaitan perbudakan kolonial Belanda dengan Indonesia, serta bagaimana pengalaman individu dilestarikan dan direpresentasikan. Mereka juga membahas apa yang dapat diajarkan oleh sejarah ini kepada kita tentang eksploitasi masa kini dalam kaitannya dengan tanggung jawab bersama.

Bagi Universitas BINUS, menjadi tuan rumah bagi pameran dan diskusi ini memberikan kesempatan kepada para mahasiswa untuk mengeksplorasi sejarah melalui pengalaman individu, sekaligus merefleksikan bagaimana masa lalu terus membentuk pemahaman kita tentang kebebasan, martabat, dan tanggung jawab. Program ini juga mendorong generasi muda untuk terlibat dengan kisah dan materi sejarah sekaligus mempertimbangkan relevansinya bagi masyarakat saat ini.

Sesi Interactive Talkshow berjudul “Slavery Past, and Present: Confronting Historical Injustice and Contemporary Forms of Exploitation” bersama ketiga narasumber Dr. Lili Yulyadi, B.IRK., B.HSc., M.HSc, Associate Professor of Department of International Relations, BINUS University; Asep Kambali, S.Pd., M.I.K, Historian & Founder dari Komunitas Historia Indonesia; Miklos Gaspar, Direktur, United Nations Information Centre (UNIC) Indonesia, dan moderator Elisabeth Ermuliana Kembaren, S.IP., M.A., Lecturer, Department of International Relations di BINUS University. (Credit: The Indonesian News/HO-Bayu Dwityo Wicaksono/UNIC)

“ Pameran dan diskusi ini menawarkan kesempatan bagi kita untuk memahami perbudakan tidak hanya sebagai sebuah sistem sejarah, tetapi melalui pengalaman orang-orang yang melewatinya. Dengan menggali kisah-kisah mereka, memori sejarah, dan makna kebebasan, kami berharap mahasiswa dan masyarakat luas dapat merefleksikan martabat manusia dan bagaimana pemahaman kita tentang masa lalu dapat membentuk rasa tanggung jawab kita hari ini,” kata Rini Setiowati, Wakil Rektor Bidang Kolaborasi & Keterlibatan Global, Universitas BINUS.

Kerangka Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa melarang perbudakan dan perdagangan budak dalam segala bentuknya. Pada bulan Maret 2026, Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi 80/250, yang membahas perdagangan dan perbudakan berbasis rasial terhadap orang-orang Afrika, serta menyerukan upaya peringatan, pendidikan, dan penelitian yang lebih kuat mengenai sejarah tersebut beserta dampaknya yang berkepanjangan. Meskipun resolusi tersebut membahas sejarah yang spesifik, penekanannya pada kebenaran dan pendidikan memperkuat betapa pentingnya mempelajari sejarah perbudakan lainnya, termasuk yang berkaitan erat dengan Indonesia.

Salah satu materi presentasi dalam sesi diskusi interaktif berjudul “Slavery Past, and Present: Confronting Historical Injustice and Contemporary Forms of Exploitation” bersama narasumber dan para peserta di Binus University. (Credit: The Indonesian News/HO-Bayu Dwityo Wicaksono/UNIC)

“Salah satu kisah yang menarik perhatian saya adalah kisah Untung Surapati. Saya belajar bagaimana dia diperbudak di Bali, melarikan diri dari VOC di Batavia, dan kemudian menjadi tokoh yang melawan penjajahan. Kisahnya menunjukkan kepada saya bahwa pameran ini bukan hanya tentang perbudakan, melainkan juga tentang beragam pengalaman dan perjuangan orang-orang yang mengalaminya,” ujar Felicia Chritsty, mahasiswa Komunikasi Pemasaran, B29, Universitas BINUS.

Setelah pembukaannya di Universitas BINUS pada 29–30 September, pameran ini direncanakan akan berlanjut ke Monas pada 23–25 Oktober — bertepatan dengan momen Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN Day) — dan kemudian ke salah satu pusat perbelanjaan (mal) di Jakarta pada 5–8 November 2026.