Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Direktorat Koordinasi Pengendalian Operasi (Dit. Koordalops) merangkum sejumlah kejadian bencana yang berdampak signifikan di berbagai wilayah Indonesia pada periode Selasa (19/5) hingga Rabu (20/5) pukul 07.00 WIB. Dari data yang dihimpun, bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan tanah longsor masih menjadi fokus penanganan pemerintah daerah hingga hari ini.
Dalam Rilis Pers Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, Kejadian pertama yakni tanah longsor di Kelurahan Wek I, Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara, Senin (18/5). Menurut hasil kaji cepat oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tapanuli Selatan, peristiwa tersebut dipicu oleh hujan deras yang melanda wilayah tersebut sejak sore hingga malam.
“Akibat dari peristiwa tersebut, seorang warga meninggal dunia dan satu lainnya masih dalam pencarian, setelah material longsor menimpa sekitar rumah mereka. Petugas gabungan masih terus melakukan pencarian korban hilang secara intensif dengan mengerahkan alat berat dan peralatan semi manual,” Kata Abdul Muhari.
Berikutnya, banjir terjadi di Desa Pasak Piang, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Minggu (17/5), setelah hujan deras dalam waktu yang cukup lama mengguyur wilayah tersebut.
“BPBD Kabupaten Kubu Raya melaporkan sebanyak 714 unit rumah, 3 fasilitas pendidikan, dan 2 fasilitas ibadah terdampak banjir. Petugas telah berada di lokasi kejadian untuk melakukan pendataan, dan penanganan darurat bagi korban terdampak,” Terangnya.
Kejadian banjir selanjutnya terjadi di wilayah Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur pada Selasa (19/5). Peristiwa ini dipicu cuaca ekstrem yang mengakibatkan peningkatan debit air Daerah Aliran Sungai (DAS) Kedunglarangan dan Welang sehingga menyebabkan air masuk ke wilayah pemukiman. Tercatat empat kecamatan terdampak antara lain; Purwosari, Bangil, Pandaan dan Pohjentrek.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Pasuruan diturunkan untuk melakukan pendataan dan penanganan korban terdampak. Hasil kaji cepat sementara tercatat 1.867 unit rumah dan satu jembatan terdampak banjir dengan Tinggi Muka Air (TMA) berkisar antara 20 hingga 60 sentimeter. Sampai hari ini tidak ada informasi warga yang mengungsi, petugas masih bersiaga untuk evakuasi warga jika diperlukan.
Kejadian banjir juga terjadi di Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah pada Selasa (19/5) pukul 15.10 WITA. BPBD Kabupaten Parigi Moutong melaporkan wilayah terdampak ada di Desa Siapola, Kecamatan Moutong dan Desa Gunung Sari, Kecamatan Bolano Lambunu.
Sebanyak 66 unit rumah, fasilitas kesehatan, fasilitas ibadah dan akses jalan desa terdampak akibat kejadian ini. Kondisi banjir hingga Selasa (19/5) malam, banjir di Desa Gunung Sari masih belum surut, sementara di Desa Sialopa banjir berangsur surut. Masyarakat dan relawan bergotong-royong melakukan pembersihan sampah dan lumpur sisa banjir.
Sementara di Kabupaten Kotawaringin Timur Provinsi Kalimantan Tengah, banjir melanda 8 desa dan 2 kelurahan di 3 kecamatan kecamatan yang meliputi; Mentaya Hulu, Baamang dan Mantawa Baru Ketapang pada Selasa (19/5) pukul 08.00 WIB. Petugas mencatat 153 unit rumah, 5 fasilitas ibadah, 9 fasilitas pendidikan dan akses jalan desa terdampak banjir. Banjir dilaporkan surut di hari yang sama, namun petugas masih bersiaga untuk mengantisipasi adanya banjir susulan.
Menyikapi masih tingginya curah hujan di berbagai wilayah di Tanah Air yang memicu rangkaian bencana, BNPB mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap berbagai potensi ancaman bencana, khususnya bahaya hidrometeorologi basah.
“Apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama, masyarakat diimbau untuk melakukan evakuasi mandiri dan mengetahui jalur evakuasi yang aman. Sedangkan untuk warga yang tinggal di daerah bantaran sungai juga diminta untuk rutin memantau ketinggian muka air serta memperbarui informasi cuaca dari lembaga resmi,” Demikian Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari.














