
Jakarta (The Indonesian News) – BNPB terus mendampingi pendirian hunian sementara (huntara) yang dibangun bagi warga terdampak gempa M7,7 Nusa Tenggara Timu (NTT). Dengan tempat tinggal ini, para penyintas dapat segera meninggalkan pos pengungsiannya.
Plt. Kapusdatin BNPB, Berton S. P. Panjaitan mengatakan, Penanganan pascagempa yang terjadi di Flores pada Agustus 2026 lalu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan dua pilihan dalam mengakses hunian sebelum memasuki fase rehabilitasi dan rekonstruksi. Warga yang rumahnya rusak berat mendapatkan opsi untuk mengakses dana tunggu hunian atau huntara. BNPB bersama pemerintah daerah di 7 kabupaten terdampak terus melakukan pemutakhiran data penerima manfaat dari bantuan tersebut di fase transisi darurat ke pemulihan ini.

“Sebagian besar warga memilih untuk mendapatkan bantuan huntara dibandingkan DTH,” Kata Berton S. P. Panjaitan dalam keterangan tertulis, Selasa 29 Septeber 2026.
Ia menjelaskan, Berdasarkan data sementara BNPB pada 28 September 2026, sejumlah huntara telah selesai dibangun BNPB. Total kemajuan huntara yang sedang dibangun di Kabupaten Manggarai berjumlah 110 unit, dengan rincian progres lebih dari 50 persen sebanyak 50 unit dan kurang dari 50 persen 60 unit. Huntara telah selesai sebanyak 4 unit. Hasil verifikasi rumah rusak berat di kabupaten ini berjumlah 1.494 unit.
“Di Manggarai Timur, sebanyak 561 unit huntara masih dalam proses pembangunan, sedangkan 6 unit telah selesai. Target huntara tahap pertama di kabupaten ini sejumlah 1.305 unit. Huntara yang dibangun berupa insitu dan eksitu,” Terangnya.
Selanjutnya, target huntara mandiri telah selesai 6 unit di Kabupaten Ngada. Keenam unit ini berada di 3 kecamatan, yaitu 4 unit di Kecamatan Aimere, 1 unit di Riung dan satu lainnya di Wolomeze. Di wilayah ini, BNPB telah selesai membangun huntara insitu 5 unit, sedangkan 272 unit lainnya masih dalam proses penyelesaian.
“Di Kabupaten Nagekeo, huntara insitu yang seratus persen dibangun sebanyak 9 unit. Sedangkan 173 unit dalam proses penyelesaian. Hasil verifikasi rumah rusak berat di kabupaten ini berjumlah 314 unit,” Ujarnya.
Di Kabupaten Sikka, 2 unit huntara telah selesai dibangun dengan rincian 1 unit tipe keluarga dan 1 unit tipe komunal atau 5 hunian. Sebanyak 25 unit dibangun secara pararel hingga saat ini.
Di Kabupaten Ende, huntara selesai dibangun sebanyak 7 unit, sedangkan proses pembangunan 7 unit lainnya.
Sementara itu, di Kabupaten Manggarai Barat, pemerintah daerah masih terus mendata keluarga terdampak yang memutuskan memilih huntara, yang sebelumnya mereka memilih DTH. Pemerintah daerah masih dalam proses penyusunan surat keputusan penerima bantuan huntara by name by address.
Dalam proses pembangunan huntara, BNPB akan menyelesaikan secara bertahap berdasarkan jumlah penerima manfaat yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah. Sebelum Pembangunan dilakukan, BNPB dan pemerintah daerah melakukan sosialisasi kepada masyarakat terdampak. Penentuan pendirian titik huntara didiskusikan dengan warga dan kondisi di lapangan.
“Pada waktu bersamaan, sejumlah kabupaten sedang menyelesaikan dokumen rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa,” Demikian Berton S. P. Panjaitan.








