
Wiena (The Indonesian News) – Tim dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Indonesia, terpilih untuk melakukan eksperimen mikrogravitasi di Jerman pada putaran kesepuluh dari rangkaian program beasiswa Fellowship Programme for Drop Tower Experiment Series (DropTES).
Program ini dilaksanakan bersama oleh Kantor PBB untuk Urusan Luar Angkasa (UNOOSA) dan Center of Applied Space Technology and Microgravity (ZARM) di Universitas Bremen, dengan dukungan dari German Aerospace Center (DLR).
Tim UGM ini akan mempelajari bagaimana pasir silika yang mengandung sedikit kelembaban bergerak dan terdistribusi ulang ketika dikenai getaran terkendali dalam kondisi mikrogravitasi. Penelitian ini berpotensi menghasilkan data yang mendukung pengembangan teknologi untuk misi ke bulan dan luar angkasa di masa depan, termasuk sistem penggalian dengan teknik robotik, mekanisme penanganan sampel, dan teknologi pengangkutan material.
DropTES merupakan bagian dari inisiatif Access to Space for All, yang berfokus pada hipergravitasi (kondisi gaya gravitasi yang jauh lebih besar) dan mikrogravitasi (kondisi hampir tanpa adanya gaya gravitasi).
Digagas oleh UNOOSA, program ini bertujuan untuk memperluas akses ke fasilitas penelitian luar angkasa serta membangun kapasitas ilmiah dan teknis. Melalui program ini, para tim yang terpilih akan berkunjung ke Jerman untuk melakukan eksperimen mereka menggunakan Bremen Drop Tower dan GraviTower Bremen Pro milik ZARM, yang menyediakan akses ke kondisi mikrogravitasi berkualitas tinggi di permukaan bumi.
Sejak diluncurkan pada 2014, DropTES telah memfasilitasi sembilan eksperimen yang dilakukan oleh tim dari berbagai lembaga di Bolivia, Kolombia, Kosta Rika, Italia, Yordania, Polandia, Rumania, dan Venezuela. Penerima hibah sebelumnya, Universidad Central de Venezuela, memanfaatkan kesempatan ini untuk meneliti dampak mikrogravitasi terhadap proses pengelasan paduan aluminium. Tim tersebut kemudian berupaya mengembangkan pengalaman tersebut melalui pengajuan proposal ke program-program Access to Space for All lainnya. Mereka menunjukkan bagaimana partisipasi dalam program tersebut dapat membantu mengembangkan keahlian dan melanjutkan penelitian luar angkasa.
Direktur UNOOSA, Aarti Holla-Maini, mengatakan “Ada banyak bakat ilmiah, tapi tidak banyak akses terhadap kesempatan. Program-program seperti DropTES membantu menjembatani kesenjangan tersebut, dengan memberikan kesempatan kepada tim-tim dari negara-negara yang sedang mengembangkan kemampuan antariksa untuk mewujudkan ide-ide mereka menjadi eksperimen nyata. Saya sangat senang bahwa tim terpilih dari Indonesia tahun ini akan mendapatkan kesempatan tersebut, dan saya berterima kasih kepada ZARM dan DLR atas kemitraan berkelanjutan mereka untuk memperluas akses ke penelitian antariksa.” Kata Aarti dalam siran persnya melaui Kantor PBB untuk Urusan Luar Angkasa (UNOOSA) yang diterima The Indonesian News, Senin 14 September 2026.
Direktur ZARM, Marc Avila, mengatakan: “Selamat kepada tim pemenang tahun ini atas proposal luar biasa mereka. Kami sangat senang menyambut mereka di ZARM. Proyek mereka menangani tantangan penting bagi eksplorasi antariksa di masa depan dengan meneliti bagaimana material granular yang lembab serupa dengan tanah di Bulan dan Mars berperilaku di bawah kondisi mikrogravitasi. Melalui DropTES, para mahasiswa memiliki kesempatan unik untuk merancang, membangun, dan menguji eksperimen mereka sendiri di Bremen Drop Tower sebuah lingkungan yang biasanya hanya diperuntukkan bagi para peneliti dan insinyur profesional. Program-program seperti DropTES menunjukkan bagaimana kolaborasi internasional dapat memberdayakan generasi penerus ilmuwan dan insinyur antariksa dengan memberikan akses langsung ke infrastruktur penelitian kelas dunia.” Ujar Marc Avila.
Sementara itu, Project Manager Drop Tower DLR, Tobias Saltzman menambahkan: “DLR bangga dapat berkontribusi dengan menyediakan fasilitas drop tower nasionalnya untuk program DropTES UNOOSA yang luar biasa, sehingga mewujudkan eksperimen mikrogravitasi bagi para mahasiswa. Kami yakin bahwa dukungan terhadap para ilmuwan muda dalam mewujudkan ide-ide ilmiah mereka merupakan landasan utama untuk mengatasi tantangan dunia di masa depan.” Terangnya.
Direktur Kemahasiswaan Universitas Gadjah Mada, Hempri Suyatna, menyatakan: “Keikutsertaan dalam DropTES merupakan kesempatan berharga bagi mahasiswa kami untuk merasakan pengalaman penelitian dalam konteks mikrogravitasi dan eksplorasi antariksa. Kami berharap pengalaman ini akan menginspirasi mereka untuk menekuni penelitian inovatif dan berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi antariksa di Indonesia.” Tuturnya.
Fellowship Programme for Drop Tower Experiment Series (DropTES) adalah program beasiswa yang diselenggarakan oleh UNOOSA bekerja sama dengan ZARM dan DLR untuk eksperimen Drop Tower. Sejak 2014, program ini memberikan kesempatan kepada tim peneliti mahasiswa untuk melakukan eksperimen mikrogravitasi di Bremen Drop Tower—sebuah laboratorium berbasis darat yang dilengkapi tabung jatuh setinggi 146 meter.
UNOOSA adalah Kantor PBB untuk Urusan Luar Angkasa (United Nations Office for Outer Space Affairs), badan PBB yang bertanggung jawab untuk mempromosikan kerja sama internasional dalam pemanfaatan luar angkasa secara damai.
ZARM adalah Pusat Teknologi Luar Angkasa Terapan dan Mikrogravitasi (Center of Applied Space Technology and Microgravity), sebuah lembaga penelitian di Universitas Bremen yang mengoperasikan Menara Jatuh Bremen.
DLR adalah Pusat Dirgantara Jerman (German Aerospace Center), pusat penelitian dirgantara dan luar angkasa nasional Jerman, yang mendukung DropTES melalui Badan Antariksa-nya.
Access to Space for All adalah inisiatif yang lebih luas dari UNOOSA (di mana DropTES menjadi bagiannya) yang bertujuan untuk memperluas akses ke infrastruktur penelitian luar angkasa dan membangun kapasitas teknis di negara-negara dengan program luar angkasa yang sedang berkembang.
GraviTower Bremen Pro adalah fasilitas ZARM yang lebih baru yang menawarkan metode berbasis darat tambahan untuk menciptakan kondisi mikrogravitasi di samping Menara Jatuh








