Jakarta (The Indonesian News) – Kantor Imigrasi (Kanim) Kelas I Khusus Non TPI Tangerang melaksanakan program edukasi pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan Tindak Pidana Penyelundupan Manusia (TPPM) sekaligus membuka layanan Paspor Simpatik di Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an, Cipondoh, Tangerang, Banten, Pada Kamis (18/06).
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Non TPI Tangerang Hasanin menjelaskan bawah, Fokus utama dari kehadiran Kemenimipas di lingkungan pendidikan adalah memberikan literasi kepada masyarakat usia produktif mengenai pentingnya prosedur keberangkatan yang aman.
“Kami melihat Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an ini memiliki potensi besar karena banyak anak muda yang tidak hanya bersekolah, tetapi juga dipersiapkan untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Fungsinya adalah untuk mengedukasi masyarakat usia produktif agar tidak rentan menjadi korban TPPO,” ujar Hasanin, Dikutip dari Laman Kemenimipas, Sabtu, 20 Juni 2026.

Hasanin menambahkan, Kegiatan bertajuk “Imigrasi Goes to Pesantren” ini merupakan wujud komitmen Kemenimipas dalam memperluas akses layanan keimigrasian melalui pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat, serta melindungi kalangan usia produktif dari ancaman kejahatan lintas negara dan bagian dari optimalisasi inovasi Petugas Pembina Desa (PIMPASA) pada Program Desa Binaan Imigrasi sejak tahun 2025.
Pihaknya telah membentuk sekitar 50 desa binaan di Kota Tangerang. Salah satunya berlokasi di kawasan Dongkal Raya, Ketapang, yang merupakan tempat berdirinya Ponpes Tahfidz Daarul Qur’an.
“Pesantren asuhan Ustaz Yusuf Mansur ini menjadi pesantren kedua yang didatangi oleh petugas Imigrasi dari target tujuh pondok pesantren di wilayah Tangerang pada program tersebut,” Terangnya.
Melalui kegiatan yang diikuti oleh lebih dari 20 santri ini, Imigrasi Tangerang berkomitmen melaksanakan sosialisasi setiap bulan demi mendorong tingkat kesadaran terkait migrasi yang aman dan sesuai prosedur.
Selain memberikan pemahaman bahaya TPPO dan TPPM, Kanim Tangerang turut menyediakan kemudahan administratif melalui layanan Paspor Simpatik bagi para santri, staf ponpes, hingga orang tua murid yang berencana ke luar negeri, baik untuk pendidikan maupun ibadah.
Pada pelaksanaan kali ini, tercatat sebanyak 25 pemohon telah mendaftar. “Kami ingin memastikan bahwa seluruh santri yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri dapat mengurus dokumen keimigrasian dengan mudah, cepat, dan nyaman tanpa hambatan administratif,” tambah Hasanin.
Pimpinan Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an, Ustaz Yusuf Mansur, menyambut positif kegiatan edukasi dan pelayanan proaktif dari Kemenimipas ini. Ia menekankan bahwa kesadaran kolektif sangat diperlukan untuk mencegah kejahatan transnasional.
“Kami berterima kasih kepada Imigrasi. Penting banget anak-anak kami dan keluarga besar Tahfidz Daarul Qur’an menerima sosialisasi tentang bahayanya TPPO dan TPPM. Saya juga baru diberi tahu bahwa saat membuat paspor, pemohon harus jujur. Terkadang ada yang suka menutup-nutupi, padahal itu berbahaya. Teman-teman Imigrasi pasti lebih punya ilmu dan pengalaman, sehingga jika santri bisa jujur saat diwawancara, mereka akan selamat,” terang Ustaz Yusuf Mansur.
Sinergi antara Kantor Imigrasi Tangerang dengan lembaga pendidikan agama seperti Ponpes Tahfidz Daarul Qur’an diharapkan menjadi kunci keberhasilan penyebaran informasi keimigrasian yang komprehensif.
Kemenimipas membuka peluang untuk terus memperluas sinergi serupa dengan berbagai institusi pendidikan lainnya di wilayah kerja Kanim Tangerang. Kegiatan tersebut dalam rangka mengimplementasikan 15 Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) Agus Andrianto.












