Jakarta – Sejumlah mahasiswa National University of Singapore (NUS) belajar penanggulangan bencana Indonesia saat berkunjung di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Selasa (19/5/2026) di Graha BNPB, Jakarta.
Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Dr. Raditya Jati menyampaikan, BNPB memiliki peran strategis dalam perumusan kebijakan, pengkajian risiko bencana dan penguatan ketangguhan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Risiko bencana di Indonesia dinilai semakin kompleks akibat perubahan iklim, urbanisasi, serta meningkatnya ancaman geologi dan hidrometeorologi.
“Bencana terjadi ketika ancaman alam bertemu dengan kerentanan masyarakat dan lingkungan. Oleh karena itu, pengurangan risiko bencana harus menjadi bagian integral dari pembangunan nasional maupun daerah,” ucap Raditya.

Menyikapi kondisi tersebut, BNPB terus mendorong perubahan paradigma penanggulangan bencana dari pendekatan responsif menuju preventif melalui penguatan mitigasi, kesiapsiagaan, dan investasi pengurangan risiko bencana (PRB).
Pemerintah juga telah mengembangkan berbagai instrumen strategis, di antaranya Rencana Induk Penanggulangan Bencana (RIPB) 2020–2044, penguatan pengkajian risiko bencana, pengembangan platform InaRISK dan IRBI, serta penguatan monitoring dan evaluasi kebijakan berbasis data.
Selain itu, BNPB menekankan bahwa PRB perlu dipandang sebagai investasi pembangunan jangka panjang yang berkontribusi terhadap ketahanan ekonomi nasional. Pemerintah juga memperkuat dukungan pendanaan melalui pengembangan pooling fund bencana dan investasi PRB.

Raditya jati menekankan pentingnya komitmen, kepemimpinan, dan kolaborasi multipihak dalam mewujudkan ketangguhan berkelanjutan. Konsep tersebut dikembangkan untuk mengintegrasikan agenda Sendai Framework for Disaster Risk Reduction, Paris Agreement, dan Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pendekatan yang berpusat pada masyarakat.
Sementara itu, perwakilan King Edward VII Hall, Dr. Shawn Ming Yang Lee dalam mengatakan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk mempelajari konsep, tata kelola serta tantangan penanggulangan bencana di Indonesia, khususnya peran BNPB dalam membangun ketangguhan bencana di tingkat nasional maupun regional ASEAN.
Para mahasiswa selanjutnya menuju ruang Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) untuk mendapatkan penjelasan mengenai sistem pemantauan dan koordinasi penanggulangan bencana di Indonesia, termasuk mekanisme pengumpulan informasi, koordinasi kedaruratan, serta proses pengambilan keputusan saat terjadi bencana.

Kemudian sebanyak 22 mahasiswa yang didampingi tiga fasilitator melanjutkan dengan kunjungan diorama edukasi kebencanaan. Diorama edukasi kebencanaan ini merupakan fasilitas BNPB untuk memberikan sosialisasi dan edukasi bencana kepada masyarakat.
Kunjungan mahasiswa NUS ini bertujuan sebagai kegiatan pembelajaran berbasis pengalaman yang berfokus pada implementasi SDGs, khususnya terkait aksi iklim dan ketangguhan bencana di kawasan Asia Tenggara. Kegiatan bagian dari Southeast Asia Friendship Initiative atau SFI ini diselenggarakan oleh King Edward VII Hall.
















