Beranda Hukrim Kemlu RI Telusuri Meninggalnya ABK WNI Akibat serangan drone terhadap kapal MV...

Kemlu RI Telusuri Meninggalnya ABK WNI Akibat serangan drone terhadap kapal MV Tihamah di wilayah Yaman

Direktur Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri Heni Hamidah saat memberikan keterangan Pers di Jakarta, Jumat (6/3/2026). (Foto: Dok. Bakom RI)

Jakarta (the Indonesian News) – Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Muscat terus memantau perkembangan insiden serangan drone terhadap kapal MV Tihamah di wilayah Yaman pada 11 Agustus 2026. Kapal tersebut diketahui membawa 11 ABK, terdiri atas 8 WN Pakistan dan 3 Warga Negara Indonesia (WNI).

Direktur Pelindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Heni Hamidah mengatakan, Berdasarkan komunikasi KBRI Muscat dengan ABK WNI yang selamat, insiden terjadi saat kapal sedang sandar di Pelabuhan Bab Al Mandab, Murad, Yaman.

“Dari tiga ABK WNI, satu ABK mengalami luka ringan akibat serpihan dan tidak memerlukan perawatan di rumah sakit, sementara satu ABK lainnya mengalami luka dan telah mendapatkan perawatan di rumah sakit. Satu ABK WNI lainnya diberitakan oleh sejumlah media internasional meninggal dunia dalam insiden tersebut. Namun, informasi tersebut masih dalam proses verifikasi. KBRI Muscat tengah berkomunikasi dengan otoritas terkait untuk memperoleh konfirmasi resmi mengenai kondisi dan keberadaan ABK WNI yang bersangkutan,” kata Heni dalam keterangan tertulis, Selasa, 11 Agustus 2026.

Heni menambahkan, Kementerian Luar Negeri bersama KBRI Muscat akan terus berkoordinasi dengan otoritas setempat dan pihak-pihak terkait lainnya untuk memperoleh perkembangan lebih lanjut terkait insiden tersebut.

“dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna memastikan pelindungan bagi ketiga ABK WNI termasuk mengupayakan penanganan dan pertolongan yang diperlukan serta mempersiapkan fasilitasi kepulangan para WNI ke tanah air setelah kondisi dan situasi memungkinkan,” tutup Heni.

sebelumnya, Seorang warga negara Indonesia (WNI) dilaporkan meninggal dalam serangan terhadap kapal dagang di Selat Bab al-Mandeb, Yaman, Selasa (11/8/2026). Serangan tersebut menewaskan tiga awak kapal, terdiri dari satu WNI dan dua warga Pakistan. Sejumlah sumber Yaman menduga serangan dilakukan kelompok Houthi.

Reuters melaporkan kapal yang diserang merupakan kapal kargo Tihamah berbendera Tanzania. Dua sumber penjaga pantai Yaman dan dua pejabat militer pemerintah menyebut tiga awak kapal meninggal akibat serangan tersebut. Kapal dilaporkan tengah melakukan perjalanan dari Salalah, Oman, melalui Djibouti.

Al Arabiya dan Al Hadath melaporkan proyektil yang menghantam kapal merupakan rudal balistik yang ditembakkan Houthi dari wilayah timur Provinsi Taiz. Korban tewas disebut terdiri dari dua warga Pakistan dan seorang warga Indonesia. Namun, hingga laporan tersebut diterbitkan, Houthi belum mengeluarkan pernyataan yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu.

Lembaga keamanan maritim Inggris, UK Maritime Trade Operations (UKMTO), menerima laporan sebuah kapal kargo terkena proyektil di lepas pantai Al-Mokha, Yaman. Insiden tersebut menyebabkan korban jiwa, tetapi jenis proyektil yang menghantam kapal belum dipastikan. Perusahaan keamanan maritim Ambrey menyebut kapal mengalami kerusakan setelah menjadi sasaran serangan.

Ambrey melaporkan kapal berada sekitar 3,3 mil laut di timur laut Pulau Perim ketika diserang. Setelah serangan, awak disebut kehilangan kendali atas kapal sebelum didatangi penjaga pantai Yaman. Kapal tersebut juga dilaporkan bukan milik maupun dioperasikan pihak Arab Saudi saat insiden terjadi.

Jika laporan korban terkonfirmasi, tiga kematian tersebut menjadi korban jiwa pertama akibat serangan Houthi terhadap kapal sejak konflik Timur Tengah kembali meningkat menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari.

Houthi sebelumnya mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi di Laut Merah pada Juli. Kelompok itu menyebut langkah tersebut sebagai respons terhadap apa yang mereka sebut pengepungan Saudi terhadap Yaman, tudingan yang dibantah Riyadh.

Ancaman terhadap pelayaran di Bab al-Mandeb juga meningkat di tengah gangguan pada jalur maritim Timur Tengah lainnya. Data Kpler yang dikutip Reuters menunjukkan rata-rata 32 kapal per hari melintasi Bab al-Mandeb pada pekan lalu, turun dari sekitar 50 kapal per hari sebelum blokade. Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap perusahaan pelayaran yang sebelumnya menghadapi gangguan di Selat Hormuz.

Bab al-Mandeb merupakan jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu rute utama perdagangan internasional.