Beranda Nasional Penyelamatan arsip bencana, belajar dari pengalaman bencana Sumatera

Penyelamatan arsip bencana, belajar dari pengalaman bencana Sumatera

Tangkapan layar saat Sekretaris Utama BNP) Dr. Rustian saat memberikan sambutan pada webinar Monitoring dan Evaluasi Penanganan Arsip Terdampak Bencana di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, Jakarta, Kamis (30/7/2026). (Foto : BNPB)

Jakarta (The Indonesian News) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengatakan keberadaan arsip sangat vital dalam penanggulangan bencana, karena di dalam arsip mungkin terdapat informasi dan data krusial dari setiap kejadian bencana yang telah terjadi pada masa lampau.

BNPB menyatakan penyelamatan arsip di daerah terdampak bencana bukan sekadar tumpukan dokumen. Di dalamnya tersimpan nyawa, pembelajaran, dan kebijakan yang dapat menyelamatkan ribuan orang di masa depan.

Hal itu diungkap oleh Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Dr. Rustian, dalam sambutannya pada webinar Monitoring dan Evaluasi Penanganan Arsip Terdampak Bencana di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang diselenggarakan oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) pada Kamis (30/7/2026).

“Dalam arsip tersimpan data dan informasi mengenai lokasi kejadian, tinggi genangan, wilayah terdampak, jumlah korban, jalur evakuasi, kondisi pengungsian, kerusakan infrastruktur, keputusan pemerintah, distribusi bantuan, proses pemulihan, hingga berbagai kendala yang dihadapi dalam penanganan bencana,” ujar Rustian.

“Kami apresiasi kepada Arsip Nasional Republik Indonesia, pemerintah daerah, lembaga kearsipan daerah, BPBD, serta seluruh pihak yang telah bekerja dalam penyelamatan arsip terdampak bencana,” ungkap Rustian.

“Pengalaman penanganan arsip di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat harus menjadi bagian dari pembelajaran nasional. Praktik yang baik perlu direplikasi, sedangkan kekurangan yang ditemukan harus menjadi dasar perbaikan kebijakan, kapasitas sumber daya manusia, peralatan, serta mekanisme koordinasi di daerah,” pungkasnya.

Lebih dari itu, arsip juga merekam informasi kearifan lokal masyarakat. Oleh karena itu pentingnya mengelola arsip dengan baik dan tepat, menjadi penting dilakukan oleh setiap orang dan lembaga.

“Arsip juga merekam pengetahuan masyarakat tentang kemana warga menyelamatkan diri, tanda-tanda alam apa yang mereka kenali, jalur mana yang dapat dilalui, kelompok mana yang paling rentan, serta keputusan apa yang terbukti efektif maupun yang perlu diperbaiki,” tuturnya.

Dikatakannya, jika informasi tersebut hilang, rusak, atau tidak dapat diakses, maka generasi berikutnya berisiko memulai kembali dari titik nol. Mereka dapat menghadapi ancaman yang sama tanpa memiliki kesempatan untuk belajar dari pengalaman sebelumnya.

Sebaliknya, apabila arsip kebencanaan diselamatkan dan dikelola dengan baik, maka pengalaman masa lalu dapat diubah menjadi pengetahuan, pengetahuan dapat diubah menjadi kebijakan, dan kebijakan dapat diterjemahkan menjadi tindakan kesiapsiagaan.

Arsip tersebut nantinya dapat dijadikan rujukan untuk menentukan titik evakuasi, menyusun sistem peringatan dini, merancang simulasi kesiapsiagaan, menyiapkan logistik, memperkuat infrastruktur, hingga melakukan perlindungan terhadap kelompok rentan.

“Menyelamatkan arsip kebencanaan berarti menyelamatkan pembelajaran. Menyelamatkan pembelajaran berarti memperkuat kesiapsiagaan. Dan memperkuat kesiapsiagaan berarti memberikan perlindungan yang lebih baik kepada masyarakat, hari ini dan pada masa yang akan datang,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala ANRI Mego Pinandito menyampaikan bahwa atas dukungan penuh dari BNPB, program penyelamatan arsip di tiga provinsi terdampak ini dapat berjalan dengan baik.

Adapun arsip yang diselamatkan tidak hanya arsip-arsip yang dimiliki oleh pemerintah daerah saja, namun juga mencakup arsip milik masyarakat.

“Tidak hanya arsip pemerintah daerah, hal-hal yang sifatnya keagamaan seperti surat nikah, kartu keluarga, data-data raport siswa dan sebagainya,” tutupnya.