Beranda blog Halaman 34

Aktivitas Gunung Anak Krakatau Meningkat, Operasional Tanjung Priok Tetap Berjalan Normal

Foto: Dok. Pelindo Regional 2 Tanjung Priok

Jakarta (The Indonesian News) – PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Tanjung Priok memastikan kegiatan operasional dan pelayanan kepelabuhanan di Pelabuhan Tanjung Priok tetap berjalan normal selama 24 jam di tengah erupsi Gunung Anak Krakatau dan potensi sebaran abu vulkanik di wilayah Banten dan Jakarta.

Pelindo Regional 2 Tanjung Priok terus memantau perkembangan kondisi lingkungan di sekitar pelabuhan, terutama terkait jarak pandang, aktivitas kapal, kegiatan bongkar muat, serta kondisi cuaca dan perairan. Pemantauan dilakukan sebagai bagian dari langkah antisipasi untuk memastikan kegiatan kepelabuhanan tetap berlangsung dengan mengutamakan aspek keselamatan.

Executive General Manager Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Yandri Trisaputra mengatakan, kondisi operasional pelabuhan hingga saat ini masih berjalan normal. Namun, situasi tersebut tetap diikuti dengan peningkatan kewaspadaan dan pemantauan terhadap kondisi aktual di lapangan.

“Sampai saat ini operasional Pelabuhan Tanjung Priok tetap berjalan normal. Namun, kami terus memantau kondisi aktual di lapangan dan berkoordinasi dengan KSOP, BMKG, serta instansi terkait. Setiap perkembangan yang berpotensi memengaruhi keselamatan akan menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan operasional,” Ujar Yandri dalam keterangan tertulis, Senin 7 September 2026.

Menurut Yandri, kondisi aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian bersama, khususnya dalam kaitannya dengan keselamatan pelayaran dan aktivitas pekerja di area terbuka. Karena itu, setiap kegiatan di lingkungan pelabuhan tetap dilaksanakan dengan memperhatikan kondisi aktual dan hasil penilaian risiko.

“Prinsipnya, kelancaran pelayanan tetap kami jaga, tetapi keselamatan menjadi prioritas. Apabila kondisi di lapangan menunjukkan adanya risiko, seperti jarak pandang yang menurun atau kondisi cuaca dan perairan yang tidak aman, maka langkah operasional akan disesuaikan dengan hasil asesmen dan arahan dari otoritas terkait,” kata Yandri.

Pelayaran Tetap Berjalan Sementara itu, kegiatan pelayaran dari dan menuju Pelabuhan Tanjung Priok hingga 7 September 2026 masih berjalan. PT PELNI (Persero) tetap mengoperasikan kapal sesuai jadwal dengan memperhatikan arahan keselamatan dari KSOP, BMKG, dan instansi terkait.

Sementara itu, KSOP Utama Tanjung Priok hingga saat ini belum menerbitkan Maklumat Pelayaran atau Surat Edaran yang memerintahkan penghentian maupun pembatasan pelayaran akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Berdasarkan informasi BMKG Tanjung Priok, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga). Erupsi menerus telah berakhir dan saat ini kembali berlangsung erupsi strombolian. Pelayaran diimbau tetap waspada dan tidak memasuki radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

BMKG juga nenyampaikan bahwa saat ini tidak terdapat indikasi tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Pelindo Regional 2 Tanjung Priok mengimbau seluruh pekerja, mitra, dan customer untuk tetap waspada terhadap kemungkinan sebaran abu vulkanik. Pekerja yang beraktivitas di area terbuka diminta menggunakan masker dan APD sesuai kondisi serta memperhatikan jarak pandang dan kondisi lingkungan.

“Pelindo Regional 2 akan terus memantau perkembangan kondisi Gunung Anak Krakatau dan melakukan koordinasi dengan KSOP, BMKG, serta instansi terkait untuk menjaga kegiatan operasional tetap aman dan lancar.,” Tutup Yandri.

Presiden Prabowo: Alokasi anggaran untuk mitigasi bencana harus kita tambah

Presiden Prabowo Subianto (Tengah) pimpin rapat terbatas mengenai perkembangan penanganan bencana alam dari Istana Merdeka, Jakarta, melalui konferensi video pada Senin (7/9/2026). Foto: BPMI Setpres.

Jakarta (The Indonesian News) – Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas mengenai perkembangan penanganan bencana alam dari Istana Merdeka, Jakarta, melalui konferensi video pada Senin, 7 September 2026. Rapat digelar untuk memantau kondisi terkini sekaligus mengevaluasi langkah penanganan sejumlah bencana di berbagai wilayah Indonesia.

Dalam pengantarnya, Presiden menyebut sejumlah situasi yang menjadi perhatian pemerintah, mulai dari penanganan pascagempa di Flores, aktivitas Gunung Anak Krakatau, hingga kebakaran hutan dan lahan serta dampak asap. Menurut Kepala Negara, posisi Indonesia yang berada di kawasan cincin api atau ring of fire menuntut kesiapsiagaan menghadapi bencana setiap saat.

“Ini adalah takdir kita, negara yang berada di lingkaran api, the ring of fire, jadi ini membawa kita untuk siap menghadapi keadaan seperti ini setiap saat,” ujar Presiden.

Berangkat dari berbagai pengalaman penanganan bencana, Presiden menilai kapasitas mitigasi nasional perlu terus diperkuat. Salah satunya melalui peningkatan alokasi anggaran sehingga pemerintah memiliki kesiapan yang lebih besar sebelum bencana terjadi.

“Alokasi anggaran untuk mitigasi bencana harus kita tambah secara segera signifikan. Saya kira dalam menghadapi keadaan ke depan kita akan lebih mampu,” tegas Presiden.

Lebih lanjut, Presiden menilai respons pemerintah terhadap sejumlah bencana sebelumnya telah menunjukkan peningkatan kecepatan dan skala penanganan. Kepala Negara mencontohkan penanganan bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat yang dilakukan dengan pengerahan kekuatan nasional secara masif.

“Kita pulihkan keadaan di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat dengan kekuatan kita sendiri. Menurut saya kita cukup berhasil, kita atasi. Saya ucapkan terima kasih ke semua unsur,” ucapnya.

Dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan, Presiden meminta pemerintah beralih makin kuat dari pola reaktif menuju antisipatif. Perencanaan kesiapsiagaan, menurut Presiden, harus memastikan sarana dan peralatan telah tersedia jauh sebelum kejadian, mulai dari helikopter, pompa air, kendaraan pemadam, hingga ekskavator di wilayah rawan.

“Saya minta pemikiran kita, dalam perencanaan kita gunakan prinsip lebih baik lebih daripada kurang. Artinya, ini juga nanti Menteri Sesneg siapkan juga, beritahu juga Menteri Keuangan, Menteri Bappenas. Berarti lebih banyak helikopter lebih baik, lebih banyak pompa air lebih baik, lebih banyak pemadam kebakaran lebih baik,” jelasnya.

Kepala Negara juga meminta penyusunan master plan mitigasi yang menyeluruh dan masif. Penguatan tersebut mencakup pemanfaatan kapal induk yang akan dimodifikasi untuk mendukung operasi helikopter dan drone, penambahan pesawat untuk operasi modifikasi cuaca, serta pengembangan teknologi drone untuk mendukung pemadaman dari udara.

“Jadi kita persiapan mengatasi dan mitigasi itu jangan menunggu kejadian, jauh sebelumnya kita siapkan,” tegas Presiden.

Terkait gempa bumi di Flores, Presiden juga ingin memastikan kebutuhan dasar masyarakat di seluruh kabupaten terdampak dapat segera dipulihkan, termasuk wilayah yang belum dikunjunginya secara langsung. Dalam rapat tersebut, Presiden meminta laporan secara berjenjang dari Kementerian Dalam Negeri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), TNI, Polri, serta pemerintah daerah.

Rapat tersebut sekaligus menegaskan arah kebijakan pemerintah dalam menghadapi ancaman bencana ke depan dengan memperkuat mitigasi, memperbesar kesiapan, dan mengerahkan seluruh kekuatan negara untuk melindungi rakyat. Bagi Presiden Prabowo, menghadapi risiko bencana di Indonesia tidak cukup hanya dengan respons yang cepat. Negara harus hadir dan siap bahkan sebelum bencana terjadi.

Pemerintah Perkuat Sinergi dengan Pemegang HGU Hadapi Puncak Karhutla 2026

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto saat rapat koordinasi antara pemerintah dengan perusahaan pemegang Hak Guna Usaha (HGU) dalam penanggulangan puncak karhutla di Graha Marinir Panti Perwira, Jakarta Pusat, Senin (7/9/2026). The Indonesian News/HO-BNPB

Jakarta (The Indonesian News) – Pemerintah memperkuat koordinasi lintas kementerian/lembaga, pemerintah daerah dan perusahaan pemegang Hak Guna Usaha (HGU) dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Penguatan koordinasi tersebut dibahas dalam rapat koordinasi antara pemerintah dengan perusahaan pemegang HGU dalam penanggulangan puncak karhutla Tahun 2026 yang berlangsung di Graha Marinir Panti Perwira, Jakarta Pusat, Senin (7/9).

Agenda ini menjadi penting di tengah kondisi musim kemarau yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia. Berdasarkan prakiraan BMKG, sebagian besar wilayah mengalami musim kemarau yang lebih kering dari kondisi normal, dengan puncak musim kemarau berlangsung pada Agustus dan berlanjut pada September. Kondisi tersebut meningkatkan potensi kekeringan dan risiko karhutla di wilayah rentan.

Rapat koordinasi antara pemerintah dengan perusahaan pemegang Hak Guna Usaha (HGU) dalam penanggulangan puncak karhutla di Graha Marinir Panti Perwira, Jakarta Pusat, Senin (7/9/2026). The Indonesian News/HO-BNPB

Enam provinsi prioritas masih menjadi perhatian pemerintah, yakni Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Riau, dan Jambi. Berdasarkan pemantauan terbaru Kementerian Kehutanan melalui sistem SiPongi, pada (5/9) pukul 21.05 WIB terdeteksi 558 hotspot secara nasional. Angka tersebut turun 260 titik dibandingkan hari kemarin (4/9) yakni 818 hotspot.

Meskipun terjadi penurunan secara nasional, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan karena hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran. Setiap indikasi tetap memerlukan verifikasi lapangan melalui groundcheck dan pemantauan kondisi aktual.

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago menyampaikan hasil temuan dilapangan terdapat indikasi tindakan pelanggaran hukum.

“Kami temukan di lapangan ada tindakan tindakan yang menyebabkan kebakaran diakibatkan karena sengaja maupun kelalaian, kami lihat dari pelanggan itu sudah mulai diproses hukum,” ujar Djamari.

Perkuat Tanggung Jawab Pemegang HGU

Rapat koordinasi pemerintah dengan perusahaan pemegang HGU menjadi bagian penting dalam memastikan upaya pencegahan dan penanganan karhutla berjalan secara terpadu, khususnya pada wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Selain pemerintah pusat, rapat melibatkan pemerintah daerah dan unsur TNI/Polri dari sejumlah provinsi yang memiliki kerawanan karhutla, meliputi Jambi, Riau, Lampung, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.

Keterlibatan pemegang HGU diarahkan untuk memperkuat kesiapsiagaan di wilayah kerja masing-masing, termasuk memastikan ketersediaan sumber daya, personel, peralatan pemadaman, patroli, pemantauan titik rawan, serta respons cepat apabila terjadi kebakaran.

Langkah tersebut sejalan dengan penguatan pengendalian karhutla yang saat ini dilakukan pemerintah bersama dunia usaha. Kementerian Kehutanan sebelumnya menegaskan pentingnya keterlibatan para pemegang izin dalam menjaga areal kerja masing-masing selama periode rawan kebakaran.

Penanganan Terpadu Darat dan Udara

Pemerintah saat ini tidak hanya mengandalkan pemadaman setelah kebakaran terjadi, tetapi juga memperkuat langkah pencegahan, deteksi dini, patroli, groundcheck, penyekatan penjalaran api, pendinginan, hingga pemantauan potensi munculnya kembali titik api.

Operasi Modifikasi Cuaca juga terus dilakukan sesuai kondisi awan untuk membantu meningkatkan kelembapan dan pembasahan lahan. Pada awal September, dukungan OMC antara lain dilakukan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Jambi, Lampung, Sumatera Selatan, dan sejumlah wilayah lainnya sesuai kebutuhan dan kondisi lapangan. BNPB turut terlibat dalam penguatan operasi penanganan karhutla, termasuk dukungan terhadap OMC dan koordinasi penanggulangan bersama pemerintah daerah serta kementerian/lembaga terkait.

Penegakan Hukum Diperkuat

Selain aspek operasional, penanganan karhutla juga mencakup penguatan penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran atau menyebabkan terjadinya kebakaran.

Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Listyo Sigit menyampaikan hasil penanganan yang dilakukan oleh kepolisian.

“Saat ini ada 200 laporan polisi yang masuk dan kami sudah menetapkan 138 tersangka yang melakukan kesengajaan dan kelalaian, jumlah Ini kemungkinan masih bisa bertambah sejalan dengan tindak lanjut proses penyidikan,” ujar Listyo.

Lindungi Masyarakat dari Dampak Asap

Selain mengendalikan api, pemerintah juga memberikan perhatian terhadap dampak karhutla terhadap masyarakat, terutama akibat asap dan penurunan kualitas udara.

Data terbaru menunjukkan kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan masih bervariasi, mulai dari kategori baik hingga tidak sehat. Kondisi jarak pandang juga dapat berubah cepat mengikuti aktivitas kebakaran, curah hujan dan arah angin.

Karena itu, pemantauan hotspot, kondisi api, kualitas udara, sebaran asap, cuaca, dan jarak pandang dilakukan secara terpadu sebagai dasar menentukan prioritas pengerahan personel dan sumber daya.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan per hari ini (7/9) untuk provinsi yang memiliki lahan gambut seperti Kalimantan Barat, Riau, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan dan Jambi.

“Total luas lahan yang terbakar mencapai 72.008 hektare. Kemudian yang berhasil dipadamkan 71.274 hektare yang masih terbakar per kemarin (6/9) 734 hektare,” ujar Suharyanto.

Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Masyarakat yang menemukan asap, titik api, atau indikasi kebakaran diminta segera melaporkannya agar dapat ditindaklanjuti sedini mungkin.

Turut hadir sejumlah kementerian/lembaga antara lain Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Kehutanan, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, Kementerian Lingkungan Hidup, Kejaksaan Agung, TNI, Polri, Badan Intelijen Negara, BNPB, dan BMKG.

Melalui rapat koordinasi ini, pemerintah mendorong seluruh pihak untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan memperkuat kolaborasi dalam menghadapi periode puncak karhutla. Sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI/Polri, BNPB, BMKG, akademisi dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci agar potensi kebakaran dapat dicegah, dikendalikan dengan cepat, serta tidak berkembang menjadi bencana yang berdampak luas terhadap keselamatan masyarakat, lingkungan, dan aktivitas sosial-ekonomi.

Cek Informasi Terbaru Karhutla Kemenhut di Sini!

Ilustrasi. Foto: Dok. Kemenhut

Jakarta (The Indonesian News) – Kementerian Kehutanan terus fokus melakukan operasi Karhutla di beberapa provinsi prioritas. Pantauan data terbaru hotspot nasional terus menurun. Masyarakat bisa langsung memantau perkembangan terbaru yang dirilis resmi oleh Kementerian Kehutanan.

Berita-berita dan siaran pers terbaru bisa diakses langsung di situs Kehutanan.go.id. Dan untuk perkembangan data terbaru seputar penanganan Karhutla bisa diakses langsung di SiPongi+ juga di situs yang sama.

DIlansir dari laman Kemenhut, Senin (7/9/2026), SiPongi+ merupakan Sistem Pemantauan Karhutla milik Kementerian Kehutanan (Kemenhut). Layanan ini menyajikan data dan informasi hotspot terkini serta informasi pengananan Karhutla terupdate.

Begini cara pengecekan data terbaru Karhutla melalui SiPongi+:

  • Kunjungi website Kehutanan.go.id lalu di bawahnya ada banner Sipongi+ atau langsung akses https://sipongi.gakkum.kehutanan.go.id/
  • Untuk berita terbaru bisa langsung terlihat di halaman Utama Kehutanan.go.id
  • Untuk data Karhutla, Sipongi+ menyediakan rangkuman data terbaru di halaman utama
  • Untuk detail hotspot bisa pilih menu peta hotspot, akan muncul titik hotspot lengkap dengan datapenunjang termasuk tangkat kepercayaan.
  • Untuk informasi lebih rinci, buka menu Sebaran Titik Panas.
  • Pilih periode, provinsi, satelit, dan tingkat kepercayaan sesuai kebutuhan.

SiPongi+ menunjukkan tingkat kepercayaan atau confidence level hotspot dengan beragam warna pembeda yaitu:

Hijau atau low (0-29%): indikasinya rendah.
Kuning atau medium (30-79%): indikasinya sedang dan perlu verifikasi.

Merah atau high (80-100%): indikasinya tinggi dan perlu lebih diperhatikan.

Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit dan tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, setiap indikasi tetap perlu diverifikasi melalui groundcheck dan pemantauan kondisi aktual di lapangan.

Kementerian Kehutanan bersama instansi terkait terus memantau hotspot, kondisi kebakaran di lapangan, curah hujan, kualitas udara, sebaran asap, cuaca, dan jarak pandang secara terpadu. Informasi tersebut digunakan untuk menentukan prioritas pengerahan personel, operasi darat dan udara, serta langkah perlindungan masyarakat.

Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Masyarakat di wilayah terdampak asap juga diminta terus mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara, cuaca, dan jarak pandang serta menyesuaikan aktivitas apabila kondisi lingkungan memburuk.

Masyarakat yang menemukan asap, titik api, atau indikasi kebakaran diminta segera melapor agar dapat ditindaklanjuti petugas sedini mungkin melalui Posko Karhutla Kementerian Kehutanan pada nomor 021-5704618, WhatsApp +62 8131-00-35000, atau email posko.karhutla@kehutanan.go.id.

Pelni dan BUMN Sinergi Hadirkan Manfaat Berkelanjutan bagi Masyarakat Banda Neira

Foto: Dok. Pelni

Banda Neira (The Indonesian News) – PT Pelayaran Nasional Indonesia atau PT PELNI (Persero) bersama PT Permodalan Nasional Madani (PNM), Bank Mandiri Taspen, dan PT Pegadaian menghadirkan sejumlah program sosial dan lingkungan bagi masyarakat Banda Neira, Maluku Tengah, melalui kolaborasi BUMN yang diresmikan pada Jumat (4/9).

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PELNI Triswahyu Herlina yang didampingi Vice President Treasury dan TJSL PELNI Sayyidah Sarah Ghaida serta Kepala Cabang PELNI Ambon Robbie Ahmansyah turut hadir dalam peresmian program yang menjadi bentuk nyata kolaborasi BUMN dalam memberikan manfaat langsung kepada masyarakat sekaligus mendukung pembangunan yang berkelanjutan.

Dalam rangkaian program tersebut, kolaborasi BUMN menghadirkan penanaman 500 bibit pala untuk 30 petani, pembangunan satu ruang belajar, dukungan pengelolaan sampah, serta pemeriksaan mata bagi 100 lansia di Banda Neira.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PELNI Triswahyu Herlina atau akrab disapa Ina mengatakan kolaborasi antar-BUMN menjadi langkah penting untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, khususnya melalui program yang tidak hanya bersifat bantuan tetapi juga dapat memberikan dampak jangka panjang.

“Bagi PELNI, kolaborasi ini merupakan bentuk komitmen untuk hadir dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kami berharap program yang dijalankan bersama dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi masyarakat Banda Neira, baik dari sisi ekonomi, pendidikan, lingkungan maupun sosial,” ujar Ina dalam keterangan tertulis, Senin 7 September 2026.

Ina menambahkan bahwa program-program tersebut sejalan dengan pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PELNI yang diarahkan untuk memberikan manfaat berkelanjutan melalui pilar sosial, lingkungan, dan ekonomi.

Penanaman bibit pala diharapkan dapat mendukung kelestarian lingkungan sekaligus memperkuat potensi ekonomi masyarakat melalui pengembangan komoditas lokal. Sementara itu, pembangunan ruang belajar menjadi bagian dari upaya mendukung akses pendidikan dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik bagi generasi muda. Program ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 15 tentang Ekosistem Daratan.

Sebagai perusahaan yang memiliki kedekatan dengan wilayah pesisir dan laut, PELNI juga memandang pengelolaan lingkungan sebagai bagian penting dari keberlanjutan. Melalui dukungan pengelolaan sampah, program kolaborasi ini diharapkan dapat mendorong kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan sekaligus mengurangi dampak sampah terhadap ekosistem pesisir dan laut. Program tersebut sejalan dengan SDGs nomor 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab serta SDGs nomor 14 tentang Ekosistem Laut.

Di sisi sosial, pemeriksaan mata bagi 100 lansia menjadi bentuk kepedulian terhadap kualitas hidup masyarakat. Layanan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat lanjut usia memperoleh pemeriksaan kesehatan mata secara lebih mudah dan mendukung peningkatan kualitas hidup penerima manfaat, sejalan dengan SDGs nomor 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap program yang diberikan dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat. Bibit pala dapat dirawat, ruang belajar dapat digunakan secara optimal, pengelolaan sampah dapat terus berjalan, dan layanan kesehatan dapat memberikan manfaat bagi para penerima,” tambah Ina.

Melalui kolaborasi tersebut, PELNI berharap sinergi antar-BUMN dapat terus diperkuat untuk menghadirkan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta memberikan dampak positif bagi pembangunan sosial, ekonomi, pendidikan, dan lingkungan di berbagai wilayah Indonesia.

Seluruh Program TJSL PELNI mengacu pada pilar SDG’s atau Sustainable Development Goals yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa dan telah diadopsi oleh BP BUMN ke dalam Program TJSL di seluruh perusahaan BUMN. Selain sosial, pilar TJSL PELNI disusun atas pilar ekonomi, lingkungan, dan tata kelola hukum.

Erupsi Gunung Anak Krakatau, Pelni Pastikan Kegiatan Operasional Kapal Tetap Terjaga

Foto: Dok. Pelni

Jakarta (The Indonesian News) – PT Pelayaran Nasional Indonesia atau PT PELNI (Persero) memastikan kegiatan operasional kapal tetap berjalan dan terjaga di tengah dampak erupsi Gunung Anak Krakatau. PELNI terus memantau perkembangan situasi serta memastikan aspek keselamatan dan kelancaran operasional kapal tetap menjadi prioritas dalam melayani masyarakat.

Sekretaris Perusahaan PELNI Ditto Pappilanda mengatakan layanan transportasi laut PELNI dapat menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat yang tetap membutuhkan perjalanan antarkota di tengah adanya penyesuaian operasional penerbangan.

“Dalam situasi seperti ini, PELNI berupaya memastikan konektivitas masyarakat tetap tersedia melalui transportasi laut. Kami mengajak masyarakat yang membutuhkan perjalanan dari Jakarta untuk mempertimbangkan kapal PELNI sebagai salah satu alternatif, dengan tetap memperhatikan jadwal keberangkatan dan ketersediaan tiket,” ujar Ditto dalam keterangan tertulis, Senin 7 September 2026.

Dari Pelabuhan Tanjung Priok, PELNI memiliki sejumlah kapal dengan tujuan Surabaya, di antaranya KM Nggapulu, KM Gunung Dempo, KM Labobar, dan KM Dobonsolo. Selain itu, KM Dorolonda melayani perjalanan menuju Batam, Tanjung Balai Karimun, hingga Belawan.

“PELNI terus berkoordinasi dengan stakeholder terkait untuk memastikan layanan transportasi laut berjalan dengan baik. Bagi masyarakat yang memilih menggunakan kapal PELNI, kami mengimbau untuk melakukan pengecekan jadwal dan ketersediaan tiket melalui kanal resmi PELNI sebelum melakukan perjalanan,” tambah Ditto.

Selain jadwal tersebut, PELNI juga memiliki keberangkatan lainnya dari Jakarta pada periode September 2026. Jadwal kapal dapat berubah menyesuaikan kondisi operasional dan perkembangan di lapangan.

Berikut jadwal kapal PELNI dari Cabang Jakarta periode 7–30 September 2026 :

Tujuan Batam – Belawan:
1. KM Dorolonda (Voy. 17)
• Tiba di Tanjung Priok: 10 September 2026, 08.00 WIB
• Berangkat: 10 September 2026, 15.00 WIB
• Rute: Batam – Tanjung Balai Karimun – Belawan

Tujuan Surabaya:
1. KM Nggapulu (Voy. 17)
• Tiba di Tanjung Priok: 7 September 2026, 15.00 WIB
• Berangkat: 8 September 2026, 20.00 WIB
• Rute: Surabaya – Makassar – Baubau – Namlea – Ambon – Ternate – Bitung

2. KM Gunung Dempo (Voy. 16)
• Tiba di Tanjung Priok: 8 September 2026, 00.01 WIB
• Berangkat: 8 September 2026, 10.00 WIB
• Rute: Surabaya – Makassar – Sorong – Manokwari – Wasior – Nabire – Jayapura

3. KM Labobar (Voy. 17)
• Tiba di Tanjung Priok: 16 September 2026, 20.00 WIB
• Berangkat: 17 September 2026, 13.00 WIB
• Rute: Surabaya – Makassar – Baubau – Ambon – Banda – Tual – Dobo – Kaimana – Fakfak

4. KM Dobonsolo (Voy. 16 Rute B)
• Tiba di Tanjung Priok: 17 September 2026, 13.00 WIB
• Berangkat: 18 September 2026, 01.00 WIB
• Rute: Surabaya – Makassar – Baubau – Sorong – Manokwari

5. KM Nggapulu (Voy. 18)
• Tiba di Tanjung Priok: 21 September 2026, 15.00 WIB
• Berangkat: 22 September 2026, 18.00 WIB
• Rute: Surabaya – Makassar – Baubau – Namlea – Ambon – Ternate – Bitung

6. KM Gunung Dempo (Voy. 17)
• Tiba di Tanjung Priok: 23 September 2026, 04.00 WIB
• Berangkat: 23 September 2026, 18.00 WIB
• Rute: Surabaya – Makassar – Sorong – Manokwari – Wasior – Nabire – Jayapura

7. KM Labobar (Voy. 18)
• Tiba di Tanjung Priok: 30 September 2026, 20.00 WIB
• Keberangkatan: menunggu emplooi.

Sementara itu tiket kapal PELNI dapat diperoleh di seluruh channel pembelian resmi, yaitu aplikasi PELNI Mobile, website PELNI, Contact Center 162, Loket Cabang, fitur Lifestyle BCA Mobile, myBCA, Sukha by Livin’ Mandiri, BNI Agen46, BRImo, BRILink Agen, Gopay, OVO, MyTelkomsel, jaringan Indomaret dan OMI Mitra Indogrosir, jaringan Alfamart dan Alfamidi, ATA Tour, Fastpay, Easybook, VIA.com, MMBC, Darmawisata Indonesia hingga Versa dan Topindo.

Untuk pembayaran, PELNI telah bekerja sama dengan BRIVA, BNI Virtual Account, Dana, Permata Bank, Mandiri Virtual Account, Indomaret dan OMI mitra Indomaret, jaringan Alfamart dan Alfamidi, iSaku, Finpay dan Fastpay.

KPK Lakukan Pemantauan Pasca Surati Bupati dan Wali Kota se-Aceh

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo. (Foto : Dok.KPK)

Jakarta (The Indonesian News) – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengirimkan surat kepada seluruh bupati dan wali kota di Aceh untuk meminta penyampaian sejumlah data terkait pengelolaan keuangan daerah sebagai bagian dari pelaksanaan tugas koordinasi dan supervisi pencegahan tindak pidana korupsi.

Surat bernomor B/4270/KSP.00/70-72/07/2026 tertanggal 13 Juli 2026 itu bersifat segera, ditandatangani secara digital oleh Deputi Bidang Koordinasi dan Supervisi KPK, Ely Kusumastuti, atas nama pimpinan KPK.

Pasca KPK Surati Bupati dan Wali Kota se-Aceh, Juru Bicara (Jubir) KPK Budi Prasetyo saat dikonfirmasi mengatakan, data tersebut menjadi salah satu basis pemantauan KPK.

“Data perencanaan dan penganggaran program prioritas pemerintah daerah akan menjadi salah satu basis pemantauan KPK untuk melakukan pendampingan sekaligus pengawasan melalui fungsi koordinasi dan supervisi,” Kata Budi kepada The Indonesian News melalui pesan elektronik, Senin 7 September.

Sebelumnya, Dalam surat tersebut, KPK menjelaskan bahwa permintaan data dilakukan berdasarkan ketentuan Pasal 6 huruf b Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang mengatur tugas KPK melakukan koordinasi dengan instansi yang berwenang melaksanakan pemberantasan tindak pidana korupsi dan instansi penyelenggara pelayanan publik.

Adapun data yang diminta meliputi hibah Tahun Anggaran 2025 dan 2026, termasuk hibah kepada instansi vertikal, bantuan keuangan Tahun Anggaran 2025 dan 2026, pokok-pokok pikiran (Pokir) DPRD Tahun Anggaran 2025 dan 2026, serta anggaran perjalanan dinas dan honor DPRD pada periode yang sama.

Selain itu, KPK juga meminta daftar 10 proyek pengadaan barang dan jasa dengan nilai terbesar pada Tahun Anggaran 2025 dan 2026, data pengadaan barang dan jasa melalui metode Pengadaan Langsung dan E-Purchasing, Dana Alokasi Khusus (DAK), pinjaman daerah, serta laporan hasil audit Inspektorat melalui akun e-Audit apabila telah dilakukan.

Menko Polkam Tegaskan Karhutla Bukan Lagi Sekadar Imbauan: “Jika Kesadaran Diabaikan, Instrumen Hukum Akan Bekerja

Rapat Koordinasi antara Pemerintah dengan Para Pemegang HGU dan PBPH dalam Penanggulangan dan Penanganan Puncak Karhutla Tahun 2026 di Graha Marinir, Jakarta, Senin (7/9/2026). The Indonesian News/Erlita

Jakarta (The Indonesian News) Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago menegaskan bahwa pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan lagi sebatas imbauan, melainkan kewajiban yang harus dijalankan secara serius oleh seluruh pihak, termasuk pemegang Hak Guna Usaha (HGU) dan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH).

Penegasan tersebut disampaikan Menko Polkam saat membuka Rapat Koordinasi antara Pemerintah dengan Para Pemegang HGU dan PBPH dalam Penanggulangan dan Penanganan Puncak Karhutla Tahun 2026 di Graha Marinir, Jakarta, Senin (7/9/2026).

Menurut Djamari, pengendalian karhutla merupakan tanggung jawab bersama yang memiliki tiga lapis, yakni tanggung jawab moral, tanggung jawab jabatan, dan tanggung jawab hukum.

“Penanggulangan karhutla adalah tanggung jawab bersama. Di dalamnya ada tanggung jawab moral, tanggung jawab jabatan, dan tanggung jawab hukum,” tegas Djamari.

Ia menjelaskan, tanggung jawab moral berkaitan dengan kewajiban menjaga keselamatan manusia dan kelestarian lingkungan. Sementara tanggung jawab jabatan melekat pada kewenangan serta amanah yang diberikan kepada setiap pihak. Adapun tanggung jawab hukum merupakan konsekuensi yang telah ditetapkan negara melalui peraturan perundang-undangan.

“Dua yang pertama itu dijalankan dengan kesadaran, namun jika kesadaran itu tidak ada, maka yang ketiga akan bekerja,” ujarnya.

Kebakaran Berulang di Konsesi Jadi Sorotan

Kepada para pemegang HGU dan PBPH, Djamari mengingatkan bahwa HGU bukan merupakan hak milik, melainkan hak yang diberikan negara dalam jangka waktu tertentu dengan kepercayaan bahwa tanah tersebut dikelola secara baik, bertanggung jawab, dan sesuai ketentuan.

Karena itu, ia meminta perusahaan tidak menganggap kebakaran yang berulang di wilayah konsesi sebagai sebuah kejadian biasa atau sekadar kecelakaan.

“Ketika lahan dalam konsesi terbakar berulang setiap tahunnya, itu bukan lagi kecelakaan, itu pola yang mengindikasikan kurangnya tanggung jawab,” tegasnya.

Djamari menegaskan, pemerintah akan menggunakan instrumen hukum apabila tanggung jawab moral dan tanggung jawab jabatan tidak dijalankan. Pembukaan lahan dengan cara membakar merupakan tindak pidana, sedangkan HGU dapat dievaluasi, tidak diperpanjang, bahkan dibatalkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Meski demikian, pemerintah tetap mengedepankan pendekatan kerja sama, kepatuhan, dan kesadaran bersama dalam mencegah karhutla.

Menurut Djamari, kepatuhan terhadap kewajiban pengelolaan lahan, khususnya di kawasan gambut, sangat penting untuk memastikan lahan tetap dalam kondisi basah, mencegah kebakaran berulang, sekaligus menjaga keberlanjutan kegiatan usaha.

“Sebaliknya, apabila kewajiban diabaikan, seluruh instrumen hukum akan bekerja sebagaimana mestinya,” tegasnya.

Puncak Karhutla Belum Terlewati

Menko Polkam juga mengingatkan bahwa ancaman karhutla pada 2026 belum berakhir. Seluruh pihak diminta tetap meningkatkan kewaspadaan dan tidak menganggap kondisi saat ini sebagai fase penurunan.

“Kita belum melewati puncaknya. Artinya, apa yang kita hadapi hari ini bukan puncak yang sedang menurun, melainkan kondisi yang masih akan berlanjut,” jelas Djamari.

Ia menambahkan, pemerintah telah memiliki perangkat aturan yang cukup lengkap untuk melakukan pencegahan, penanganan, hingga penegakan hukum terhadap pelanggaran karhutla.

“Aturan pun sudah lengkap. Jadi, ada dua kemungkinan, ada yang jujur dan ada yang tidak. Kita akan lihat, dan akan ada tindakan penegakan hukum bagi yang tidak jujur,” ungkapnya.

734,81 Hektare Masih Terbakar di Enam Provinsi Prioritas

Dalam rapat tersebut, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto memaparkan perkembangan terkini penanganan karhutla.

Hingga saat ini, luas lahan yang masih terbakar di enam provinsi prioritas tercatat mencapai 734,81 hektare. Sementara di luar provinsi prioritas, terdapat sekitar 705 hektare lahan yang masih terbakar.

Untuk mempercepat penanganan, pemerintah telah mengerahkan 43.481 personel gabungan dalam operasi penanggulangan karhutla.

Operasi pemadaman juga diperkuat melalui dukungan udara dengan mengerahkan 55 pesawat. Sebanyak 19 pesawat digunakan untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sedangkan 36 pesawat dikerahkan untuk operasi water bombing.

Pengerahan kekuatan tersebut dilakukan untuk mempercepat pemadaman titik-titik kebakaran sekaligus mencegah api meluas ke wilayah lainnya.

HGU Wajib Dijaga, Pembakaran Lahan Dilarang

Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid menegaskan bahwa pemegang HGU memiliki kewajiban untuk memelihara tanah, termasuk meningkatkan kesuburan serta mencegah terjadinya kerusakan.

Ia juga menegaskan bahwa pembukaan lahan dengan cara membakar dilarang sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan.

Dari sisi penegakan hukum, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menyampaikan bahwa sepanjang 1 Januari hingga 6 September 2026, Polri telah menangani 200 laporan polisi terkait karhutla.

Dari jumlah tersebut, 192 laporan ditujukan kepada perorangan dan delapan laporan berkaitan dengan korporasi.

Dari seluruh penanganan perkara tersebut, sebanyak 138 orang telah ditetapkan sebagai tersangka dengan total luas area terbakar mencapai 8.637,36 hektare.

Sementara itu, Jaksa Agung ST Burhanuddin menegaskan bahwa Kejaksaan Agung mendukung penuh penegakan hukum terhadap pelaku karhutla dengan mengoptimalkan berbagai instrumen hukum yang tersedia.

Penanganan perkara dilakukan melalui instrumen pidana umum, pidana khusus, maupun perdata sesuai karakteristik masing-masing perkara dan ketentuan hukum yang berlaku.

Operasi Darat Diperkuat

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menekankan pentingnya penguatan operasi darat untuk mengoptimalkan penanganan karhutla, terutama di wilayah yang masih terdapat titik api.

Dukungan personel dan sumber daya dari TNI, Polri, pemerintah daerah, serta seluruh unsur terkait dinilai penting untuk mempercepat proses pemadaman dan mencegah kebakaran meluas.

Rapat koordinasi tersebut dihadiri Menteri Dalam Negeri, Menteri Kehutanan, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, Menteri Lingkungan Hidup, Jaksa Agung, Panglima TNI, Kapolri, Kepala Badan Intelijen Negara, Kepala BNPB, Kepala BMKG, para gubernur, Pangdam, Kapolda, Danrem, serta pimpinan perusahaan pemegang HGU dan PBPH.

Turut mendampingi Menko Polkam, Wamenko Polkam Letjen TNI (Purn.) Lodewijk F. Paulus, Sesmenko Polkam Letjen TNI Mochammad Hasan, serta para deputi Kemenko Polkam.

BNPB dan Pemda di Enam Provinsi Perkuat Pengendalian Karhutla

Petugas gabungan berusaha memadamkan lahan seluas 6.05 hektare yang terbakar di Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, Minggu (6/9/2026). Foto: BPBD Kabupaten Banyumas

Jakarta (The Indonesian News) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah peristiwa bencana yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia sejak Minggu sampai dengan Senin, (7/9). Plt Kapusdatin BNPB, Berton SP Panjaitan mengatakan Berdasarkan laporan perkembangan kondisi lapangan berikut penanganannya, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mendominasi di sejumlah daerah.

“Peristiwa karhutla terjadi di Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa tengah, pada Minggu (6/9). Kejadian ini berlangsung pada 14.20 WIB di kawasan Bukit Talang, Desa Talang, Kecamatan Bayat. Merespons kebakaran tersebut, tim reaksi cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Klaten melakukan upaya pemadaman. Luas area terdampak seluas 2 hektare. Tidak ada laporan adanya korban jiwa akibat peristiwa tersebut. Api berhasil dipadamkan petugas gabungan pada Minggu seore (6/9),” Kata Berton SP Panjaitan dalam keterangan tertulis, Senin 7 September 2026.

Selanjutnya, peristiwa yang sama terjadi di Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah, pada Minggu (6/9), Lokasi terdampak di Desa Bentak, Kecamatan Kalijambe. Lahan seluas 4 hektare terdampak kejadian tersebut. Api berhasil ditaklukkan pada hari itu juga setelah petugas BPBD, TNI, Polri dan relawan gabungan melakukan pemadaman api di lokasi terdampak.

Masih di Provinsi Jawa Tengah, karhutla juga terjadi di Kabupaten Banyumas pada Minggu (6/9). Titik api ditemukan di tiga desa yang berada pada tiga kecamatan. BPBD setempat mencatat insiden terjadi di Desa Gunung Wetan, Kecamatan Jatilawang, Desa Wlahar, Kecamatan Wangon dan Desa Kalisube, Kecamatan Banyumas. Lahan seluas 6,05 hektare terdampak kejadian tersebut.

“Petugas gabungan dari BPBD, dinas pemadam kebakaran, TNI, Polri, aparat desa dan warga berhasil berhasil memadamkan api pada hari itu juga,” Ujarnya.

Berton SP Panjaitan menambahkan, pada Minggu (6/9) terdeteksi di Kota Palopo, Provinsi Sulawesi Selatan. Karhutla terjadi di Kelurahan Padang Lambe, Kecamatan Wara Barat. BPBD setempat menyampaikan, api menyebar secara cepat akibat kondisi cuaca panas dan kering. Lahan seluas 4 hektare terbakar akibat peristiwa ini. Api berhasil dipadakan pada hari itu juga.

“Selain laporan yang baru diterima di atas, BNPB bersama pemerintah daerah masih terus melakukan pengendalian karhutla, khususnya di enam provinsi prioritas yaitu Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan,” Terangnya.

Terkait dengan ancaman karhutla di musim kemarau, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk bersinergi dalam pengendalian.

“Peran masyarakat dalam upaya pencegahan menjadi kunci dalam penanganan dampak yang lebih buruk karhutla. Pemadaman dini merupakan langkah efektif sebelum meluasnya kebakaran yang dapat dipengaruhi kondisi cuaca kering di musim kemarau,” Tutup Berton SP Panjaitan.

Minister of Transportation Dudy: Safety Is the Priority, Impact of Mount Anak Krakatau Eruption Continues to Be Monitored

Credit: Bureau of Communication and Public Information of the Ministry of Transportation

Jakarta (The Indonesian News) – Minister of Transportation (Menhub) Dudy Purwagandhi stated that public safety and security are the government’s top priority in addressing the impact of the Mount Anak Krakatau eruption, which has the potential to disrupt transportation operations, including flights in several regions.

Minister Dudy conveyed that the temporary suspension or closure of airport operations is carried out as part of mitigation efforts if volcanic ash conditions are deemed to endanger aviation safety.

“If the ash dispersion is still extensive and the paper test results remain positive, then we will not force the airport to open or allow aircraft operations,” said Minister Dudy while directly monitoring Soekarno-Hatta Airport in Tangerang, Banten, on Sunday (September 6).

The Ministry of Transportation, through the Directorate General of Civil Aviation, continues to monitor the development of volcanic activity and volcanic ash dispersion, including their impact on airspace and airport operations.

Based on NOTAM A3348/26, Soekarno-Hatta Airport was temporarily closed on September 6, 2026, from 13:23 to 17:30 WIB (EST) due to volcanic ash dispersion from Mount Krakatau. This NOTAM replaces Notam A3346/26. The closure was carried out as an aviation safety measure following indications of volcanic ash dispersion from Mount Anak Krakatau’s activity.

Similar closures were also implemented at Halim Perdanakusuma Airport, Radin Inten II Airport in Lampung, Husein Sastranegara Airport, Budiarto Curug Airport, Pondok Cabe Airport, Taufik Kiemas Airport, and Atung Bungsu Airport. From these closures, approximately 150,000 passengers were stranded, with 467 flights affected, consisting of 58 international flights and 409 domestic flights.

Minister Dudy instructed all aviation operators to prioritize safety in every operational decision and to convey information quickly, accurately, and transparently to the public.

On the other hand, the Minister emphasized that although operational disruptions occur due to natural conditions, passenger service must remain a priority.

Airlines are required to provide clear information to passengers regarding schedule changes, cancellations, or flight diversions, and to ensure that passenger rights are fulfilled in accordance with applicable regulations. The Minister also opened the possibility of diverting flights to other airports such as Kertajati, Semarang, Surabaya, and Yogyakarta.

“Airlines must immediately inform passengers so they do not have to wait too long. Given that conditions are unpredictable, the most important thing is that their rights for ticket refunds must be guaranteed by the airlines so they don’t have to wait. Because there are many passengers who still hope they can still fly. However, with the conditions you can see, it is unlikely that we will be able to open the airport anytime soon. We will open it only if we can guarantee that safety conditions are certain,” said Minister Dudy.

The Minister also asked operators to ensure the availability of staff and information channels to assist affected passengers, so that every travel change can be handled in an orderly and coordinated manner.

To the public planning to travel through affected airports, Minister Dudy advised them not to come to the airport during the closure period and to always monitor the latest information from airlines regarding flight status.

Meanwhile, regarding ferry transportation, Minister Dudy conveyed that based on the Ministry of Transportation’s monitoring, operations on the Merak–Bakauheni crossing route are still running normally. The Ministry of Transportation continues to monitor weather conditions, waterways, shipping safety, and service smoothness on this route.

“Merak is still operating. Regarding waves, so far there have been no reports requiring us to stop operations. However, the impact of ash dispersion needs to be carefully observed and monitored. If the ash dispersion significantly affects the health of passengers and crew, then ferry operations should not be forced,” said Minister Dudy.

The Minister asked all ship operators and port managers to strictly follow safety procedures, including monitoring weather and waterway conditions and ensuring the readiness of ships, crew, port facilities, and services to users.

Source: Bureau of Communication and Public Information of the Ministry of Transportation

Google search engine
0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Recent Posts